🔴 Breaking
Kesehatan

Hari Penglihatan Sedunia: Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Penglihatan

Kementerian Kesehatan menekankan perhatian khusus terhadap gangguan penglihatan pada anak dan lansia, dengan fokus pada kelainan refraksi dan katarak. Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah dampak...

Maya Soraya Larasati

Penulis

14 October 2026
12 kali dibaca
Foto: Kelainan refraksi pada anak, katarak pada lansia jadi masalah penglihatan terbanyak (Adelia Magda/detikHealth)
Foto: Kelainan refraksi pada anak, katarak pada lansia jadi masalah penglihatan terbanyak (Adelia Magda/detikHealth)

Jakarta - Banyak anak yang sering menyipitkan mata saat melihat papan tulis, sementara orang tua mulai mengalami kesulitan dalam melihat dengan jelas. Gangguan penglihatan dapat terjadi pada berbagai usia, tetapi masalah yang perlu diperhatikan tidak selalu sama. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengidentifikasi dua kelompok utama dalam penanganan gangguan penglihatan, yaitu anak dan remaja serta orang dewasa dan lansia. Pada anak, kelainan refraksi menjadi salah satu isu yang perlu diperhatikan, sedangkan pada kelompok usia lanjut, katarak menjadi perhatian utama karena dapat menyebabkan kebutaan.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menguraikan perbedaan masalah ini dalam media briefing yang diadakan untuk memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2026. "Jadi, masalah kita tuh ada dua ya, masalah kebutaan pada lansia serta masalah pada anak dan remaja," jelas Nadia.

Kelainan Refraksi pada Anak

Kelainan refraksi adalah gangguan yang menyebabkan penglihatan tidak terfokus dengan baik, yang mencakup rabun jauh, rabun dekat, dan astigmatisme. Beberapa kelainan refraksi dapat diperbaiki dengan kacamata berdasarkan hasil pemeriksaan. Data CKG sekolah dari 1 Januari hingga 2 September 2026 mencatat bahwa sebanyak 288.408 peserta, atau 3,12 persen dari 9.241.377 peserta yang menjalani pemeriksaan tajam penglihatan, mengalami gangguan penglihatan dengan hasil di bawah 6/9. Temuan ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan mata bagi anak-anak di usia sekolah. Namun, hasil skrining tidak selalu memastikan jenis gangguan yang dialami setiap anak, sehingga pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.

Dalam sambutannya, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr Andi Saguni, MA, mengingatkan bahwa anak-anak mungkin tidak menyadari atau tidak mampu mengungkapkan gangguan penglihatan yang mereka alami. "Anak belum tentu menyadari atau mampu menyampaikan bahwa penglihatannya terganggu," kata Andi. Ia juga mengingatkan orang tua dan guru untuk memperhatikan perubahan perilaku anak, seperti sering menyipitkan mata, mendekatkan buku atau layar, hingga kesulitan melihat tulisan di papan. Menurut Andi, deteksi dini sangat penting agar gangguan penglihatan tidak menghambat kesempatan anak untuk belajar dan berkembang.

Katarak pada Dewasa dan Lansia

Sementara itu, pada kelompok dewasa dan lansia, Nadia menyoroti katarak sebagai salah satu masalah utama yang dapat menyebabkan kebutaan. "Utamanya penyakitnya katarak kalau pada orang tua," ungkap Nadia. Katarak terjadi ketika lensa mata menjadi keruh, sehingga penglihatan menjadi kabur. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan memerlukan pemeriksaan untuk menentukan penanganan yang tepat. Data CKG periode yang sama menunjukkan bahwa sebanyak 353.186 peserta berusia 40 tahun ke atas dicurigai mengalami katarak, yang setara dengan 2,59 persen dari 13.618.207 peserta yang menjalani skrining katarak. Temuan ini masih berupa hasil skrining dan bukan diagnosis akhir, sehingga peserta yang dicurigai perlu menjalani pemeriksaan lanjutan.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat bahwa proporsi katarak sebagai penyebab disabilitas secara nasional mencapai 19,2%. Angka ini bervariasi antarprovinsi dan menunjukkan pentingnya penanganan katarak agar gangguan penglihatan tidak berujung pada disabilitas yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pentingnya Skrining dan Penanganan Lanjutan

Menemukan gangguan penglihatan sejak dini adalah langkah awal yang krusial. Pasien yang terdeteksi mengalami gangguan tetap perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan dan penanganan sesuai kebutuhannya. Andi menegaskan bahwa skrining di layanan kesehatan primer dapat membantu menemukan berbagai gangguan mata. "Di tingkat pelayanan kesehatan primer, skrining mata dapat membantu menemukan gangguan tajam penglihatan atau visus dan kelainan refraksi, serta mengenali kecurigaan terhadap katarak, glaukoma, retinopati, maupun gangguan penglihatan berat yang memerlukan pemeriksaan dan tindak lanjut lebih lanjut dan tepat," jelas Andi.

Ia juga menekankan pentingnya kesinambungan pelayanan setelah skrining. "Namun perlu kita tekankan bahwa skrining bukanlah tujuan akhir. Yang kita inginkan adalah sebuah kesinambungan pelayanan, yakni masyarakat diskrining, gangguan ditemukan, kemudian ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kompetensi pelayanan," tuturnya. Andi mengimbau agar tidak menunggu hingga gangguan penglihatan semakin parah sebelum melakukan pemeriksaan mata. "Jangan menunggu mata bermasalah, kenali tanda gangguan penglihatan, lakukan skrining dan pemeriksaan secara berkala, dan segera tindak lanjuti apabila ditemukan gangguan," kata Andi.

Upaya menjaga kesehatan mata memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, sekolah, dan keluarga. Pemeriksaan berkala, deteksi dini, dan tindak lanjut yang tepat menjadi bagian penting agar gangguan penglihatan dapat ditangani sesuai kebutuhan.

Artikel Terkait