🔴 Breaking
Penyebab Keracunan Massal di Kediri Terungkap, Ditemukan Bakteri E. Coli dalam Makanan UIN Saizu Mengumumkan Pemenang Business Case dan Karya Tulis Ilmiah KSEI YIF 5.0 2026 --- Rupiah Melemah ke Level 17.884, Dipengaruhi Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed --- Pernyataan Kontroversial Terhadap Shin Tae-yong, Apa yang Mendorong Agresi di Tengah Tekanan? Pengalaman Seru Siswa SMPII Al Abidin Karanganyar dalam Belajar Demokrasi di DPRD Bahlil Menegaskan Pentingnya Kesepakatan Harga untuk Jaringan Listrik ASEAN Ancaman Kecerdasan Buatan: Apa yang Harus Dikhawatirkan? Peningkatan Kasus Influenza A 'Super Flu' di 13 Provinsi, IDAI Ingatkan Bahaya untuk Anak-anak Mendorong Kemandirian Santri Melalui KKN Tematik UIN Saizu Pengembangan Bioetanol Dapat Ciptakan 8 Juta Kesempatan Kerja di Indonesia Penyebab Keracunan Massal di Kediri Terungkap, Ditemukan Bakteri E. Coli dalam Makanan UIN Saizu Mengumumkan Pemenang Business Case dan Karya Tulis Ilmiah KSEI YIF 5.0 2026 --- Rupiah Melemah ke Level 17.884, Dipengaruhi Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed --- Pernyataan Kontroversial Terhadap Shin Tae-yong, Apa yang Mendorong Agresi di Tengah Tekanan? Pengalaman Seru Siswa SMPII Al Abidin Karanganyar dalam Belajar Demokrasi di DPRD Bahlil Menegaskan Pentingnya Kesepakatan Harga untuk Jaringan Listrik ASEAN Ancaman Kecerdasan Buatan: Apa yang Harus Dikhawatirkan? Peningkatan Kasus Influenza A 'Super Flu' di 13 Provinsi, IDAI Ingatkan Bahaya untuk Anak-anak Mendorong Kemandirian Santri Melalui KKN Tematik UIN Saizu Pengembangan Bioetanol Dapat Ciptakan 8 Juta Kesempatan Kerja di Indonesia
Kesehatan

IDI Memanggil Dokter Terkait Dugaan Penghinaan Terhadap Pasien BPJS

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengonfirmasi telah memanggil seorang dokter yang diduga melakukan penghinaan terhadap pasien BPJS Kesehatan, menyusul kematian pasien tersebut yang viral di media sosial...

Aditya Surya

Penulis

06 August 2026
63 kali dibaca
Akhirnya Newcastle dan Arsenal Sepakati Harga Bruno Guimaraes
Akhirnya Newcastle dan Arsenal Sepakati Harga Bruno Guimaraes

Jakarta - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan, seorang pasien BPJS Kesehatan yang sebelumnya menjadi perhatian publik setelah mengeluhkan penantian selama delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap. Komentar yang dianggap menghina muncul di media sosial terkait kasus ini.

Wakil Ketua Umum PB IDI, dr Wiweka, menyatakan bahwa pihaknya sangat berbelasungkawa kepada keluarga almarhum. "Kami dari IDI mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya pasien yang lagi viral tersebut. Semoga amal baiknya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," ungkap dr Wiweka saat dihubungi.

Perhatian Serius Terhadap Pelanggaran Etik

IDI juga mengungkapkan perhatian yang serius terhadap dugaan pelanggaran etik yang dilakukan oleh dokter melalui media sosial. Menurut Wiweka, meskipun tenaga kesehatan diperbolehkan menggunakan media sosial, hal tersebut harus dimanfaatkan untuk tujuan edukasi, bukan untuk menghina pasien atau mempromosikan diri.

"Kami concern terhadap permasalahan etik ini karena memang dalam keilmuannya tenaga kesehatan itu boleh bermedia sosial, tetapi sifatnya edukasi. Bukan untuk promosi diri, promosi produk, ataupun menghujat," tambahnya.

Klarifikasi dan Proses Penanganan Kasus

Menanggapi dugaan pelanggaran etik tersebut, IDI telah menginstruksikan pengurus wilayah untuk memanggil dokter yang terlibat guna memberikan klarifikasi dan pembinaan. "Kami juga sudah menginstruksikan IDI wilayah setempat untuk melakukan pemanggilan, klarifikasi, dan pembinaan terhadap dokter yang bersangkutan," jelas Wiweka.

Selanjutnya, penanganan kasus ini akan dilakukan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Sebelum memasuki proses sidang etik, dokter yang bersangkutan akan diminta penjelasan dalam proses klarifikasi. "Ini akan diselesaikan oleh MKEK. Kalau memang ada indikasi kesalahan, sebelum dilakukan persidangan kami akan melakukan pemanggilan sejawat untuk klarifikasi," tuturnya.

Wiweka menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan etik nantinya dapat mengategorikan pelanggaran dalam tingkat ringan, sedang, berat, hingga sangat berat. Sanksi yang diberikan akan disesuaikan dengan hasil penilaian majelis dan bertujuan untuk pembinaan profesi dokter.

"Ada yang bersifat ringan, sedang, berat, sampai sangat berat. Tentunya sanksi dalam rangka pembinaan terhadap profesi dokter tersebut, tergantung hasil penilaian dari majelis etik," pungkasnya.

Sebelumnya, sebuah unggahan di platform Threads oleh pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan belum mendapatkan ruang rawat inap meski telah menunggu selama delapan jam menjadi viral. Unggahan tersebut memicu berbagai komentar, termasuk dari beberapa akun yang diduga milik dokter dan tenaga kesehatan, yang dinilai tidak menunjukkan empati.

Salah satu komentar yang mencuri perhatian berasal dari dokter Beni Christian Sihombing, yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Dalam kolom komentar, dokter Beni menanggapi keluhan Yurizal dengan menyebutkan keterbatasan ruang perawatan di rumah sakit dan menyarankan ruang jenazah sebagai alternatif.

Setelah mendapat kritik dari netizen, dokter Beni kemudian menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui media sosial. Ia mengaku menyesali unggahan tersebut dan menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Yurizal. Beni juga menyatakan siap menerima konsekuensi dari tindakan yang diambil, baik dari proses hukum maupun sanksi dari IDI dan MKEK.

"Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketikan saya di Threads. Saya juga menyampaikan turut berdukacita kepada pemilik utas yaitu almarhum Yurizal. Saya berdoa semoga segenap keluarga diberikan penghiburan," kata Beni.

"Saya bertanggung jawab penuh atas segala tulisan yang saya buat. Dan jika pun nanti ada proses hukum, saya akan mengikutinya tanpa pembelaan ataupun menyewa pengacara," tambahnya.

Informasi lebih lanjut dapat disaksikan dalam program detikPagi yang tayang pada Kamis (6/8/2026).

Artikel Terkait