🔴 Breaking
Kesehatan

Kepala BPOM Ingatkan Pentingnya Bukti Ilmiah dalam Tren Probiotik untuk Kesehatan Usus dan Kulit

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menekankan pentingnya dukungan bukti ilmiah dalam pengembangan produk berbasis mikrobioma, termasuk probiotik, yang kini semakin populer di masyarakat.

Raihan Fadhila

Penulis

04 October 2026
19 kali dibaca
Foto: Dokumentasi BPOM RI
Foto: Dokumentasi BPOM RI

Jakarta - Penggunaan mikrobioma atau bakteri baik semakin meningkat di kalangan masyarakat. Probiotik kini tidak hanya terdapat dalam minuman yoghurt untuk kesehatan saluran cerna, tetapi juga telah meluas ke berbagai produk terapi medis, suplemen untuk meningkatkan imunitas, hingga perawatan kulit.

Menanggapi fenomena ini, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengingatkan bahwa setiap pengembangan dan klaim produk yang berbasis mikrobioma harus didukung oleh bukti ilmiah yang kuat sebelum dipasarkan. Pernyataan ini disampaikan oleh Taruna dalam kuliah umum di Sunway University, Selangor, Malaysia, pada hari Sabtu (3/10/2026).

Pentingnya Bukti Ilmiah dalam Inovasi Produk

Taruna menegaskan, "Inovasi produk berbasis mikrobioma harus didukung oleh bukti ilmiah yang kuat, baik melalui uji klinis maupun pengujian laboratorium yang terstandar, demi memastikan keamanan, kemanjuran, dan mutunya bagi masyarakat." Pernyataan ini menunjukkan komitmen BPOM dalam melindungi konsumen dari produk yang tidak teruji.

Isu mikrobioma sangat berkaitan dengan keseimbangan ekosistem mikroorganisme dalam tubuh manusia, terutama di saluran cerna. Ketidakseimbangan mikroba baik dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan, masalah imunitas, hingga kondisi kulit. Namun, dengan meningkatnya popularitas produk probiotik, muncul kekhawatiran terkait klaim kesehatan yang berlebihan yang belum teruji secara medis.

Mendorong Riset Mikroba Lokal

BPOM juga mendorong para peneliti dan pelaku industri farmasi untuk memanfaatkan potensi keanekaragaman mikroorganisme lokal sebagai bahan baku untuk produk kesehatan di masa depan. Taruna berharap bahwa kolaborasi riset antar negara, termasuk di kawasan ASEAN, dapat mempercepat pengembangan produk terapi berbasis mikrobioma yang aman, berkualitas tinggi, dan terjangkau bagi masyarakat.

“Kolaborasi internasional menjadi kunci untuk menjembatani riset akademis dengan kebutuhan industri, sehingga inovasi di bidang mikrobioma benar-benar dapat memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat,” tutupnya.

Artikel Terkait