Keputusan sejumlah pasien kanker di Indonesia untuk mencari layanan kesehatan di luar negeri terus menunjukkan peningkatan. Fenomena ini sejalan dengan hasil dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, yang menunjukkan bahwa Malaysia menjadi negara paling banyak dipilih oleh warga Indonesia untuk mendapatkan perawatan medis, diikuti oleh Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan.
Akses Terhadap Obat Kanker Generasi Terbaru
Konsultan senior onkologi medis dari Singapura, Dr. Kevin Tay, menjelaskan bahwa masalah utama yang dihadapi pasien kanker yang berobat ke luar negeri bukanlah pada kompetensi dokter, tetapi lebih kepada ketersediaan dan kecepatan akses terhadap obat-obatan kanker terbaru. Menurut Dr. Kevin, fasilitas kesehatan di luar negeri sering kali mendapatkan persetujuan dan akses distribusi obat untuk terapi kanker modern dengan lebih cepat.
“Saya pikir masalahnya bukan di dokter, tapi juga di akses ke pengobatan baru. Jadi akses ke pengobatan baru itu lebih cepat di Singapura,” ungkap Dr. Kevin saat diwawancarai di Jakarta Selatan.
Ia memberikan contoh mengenai salah satu jenis terapi obat untuk kanker pankreas yang baru saja disetujui oleh otoritas pengawas obat di Amerika Serikat (FDA) pada Agustus 2026, yang kini sudah dapat diakses oleh pasien di Singapura dalam waktu dekat.
Pentingnya Pendekatan Terapi yang Tepat
Dr. Kevin juga menekankan bahwa penanganan kanker saat ini bersifat dinamis dan sangat personal, tergantung pada kondisi medis serta profil mutasi sel kanker masing-masing pasien. Oleh karena itu, penanganan tidak bisa disamaratakan. Ada pasien yang memerlukan kemoterapi, sementara yang lain mungkin lebih cocok dengan terapi target, radiasi, atau kombinasi dari berbagai metode tersebut.
“Mutasi kanker punya obat berbeda dan dispesifikasi berdasarkan mutasinya. Kankernya mungkin sama, tapi penanganannya beda. Di sinilah muncul terapi target untuk kanker,” jelas Dr. Kevin.
Penerapan metode terapi yang tepat, baik itu kemoterapi, radiasi, atau terapi target, sangat bergantung pada ketepatan diagnosis di tahap awal pemeriksaan. Dr. Kevin memberikan contoh pada kasus kanker paru yang disebabkan oleh mutasi gen Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR). “Contoh pada kanker paru, paling banyak EGFR mutation. Kalau ada obat target, bisa menyasar mutasi itu saja. Beda jenis mutasi, ada obat tertentu dan spesifik. Jadi penting banget menegakkan diagnosis di awal jadi obatnya bisa tepat,” tutup Dr. Kevin.