🔴 Breaking
Kesehatan

Peningkatan Pasien Gangguan Pernapasan di Malaysia Akibat Kabut Asap dari Karhutla Indonesia

Kebakaran hutan di Indonesia menyebabkan kabut asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat di Malaysia, dengan peningkatan signifikan pasien yang mengalami gangguan pernapasan.

Raihan Fadhila

Penulis

20 October 2026
23 kali dibaca
Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain
Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan kabut asap menyebar ke negara-negara tetangga, termasuk Malaysia. Hal ini berpengaruh pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat setempat. Beberapa dokter di klinik swasta di Malaysia melaporkan adanya lonjakan pasien yang memerlukan terapi nebulisasi akibat masalah pernapasan.

Lonjakan Kasus Gangguan Pernapasan

Sekretaris Jenderal Federation of Private Medical Practitioners' Associations Malaysia, dr Eugene Chooi, menyatakan bahwa semakin banyak pasien yang mengalami batuk, iritasi tenggorokan dan mata, hidung tersumbat, mengi, serta perburukan asma saat kualitas udara menurun. "Beberapa klinik juga melihat peningkatan jumlah pasien yang membutuhkan pengobatan bronkodilator atau nebulisasi, terutama mereka yang mengalami bronkospasme signifikan," tambahnya.

Meski demikian, dr Chooi menekankan bahwa penggunaan nebulisasi harus berdasarkan hasil pemeriksaan klinis. Banyak kasus dengan gejala ringan dapat diatasi dengan inhaler salbutamol yang dilengkapi spacer, alat bantu untuk menyalurkan obat dari inhaler ke saluran pernapasan. Ia menjelaskan bahwa kabut asap tidak secara langsung menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas akibat virus, tetapi udara yang tercemar dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi pernapasan yang sudah ada.

Pentingnya Tindakan Pencegahan

Dr Chooi juga mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu sampai mengalami kesulitan bernapas untuk mencari bantuan medis. "Pantau indeks pencemaran udara, kurangi aktivitas di luar ruangan yang tidak penting ketika kualitas udara buruk, gunakan masker N95 yang terpasang dengan baik jika terpaksa berada di luar, dan pastikan inhaler serta obat-obatan rutin tersedia," ujarnya.

Ia juga menyarankan agar segera mencari pertolongan medis jika mengalami mengi yang berkepanjangan, sesak napas yang semakin parah, atau jika inhaler yang biasa digunakan tidak lagi efektif. Sebagai seorang dokter keluarga, dr Chooi menyatakan bahwa tenaga medis dapat menangani perburukan kondisi pernapasan, namun upaya pencegahan jauh lebih baik untuk menghindari masalah kesehatan yang lebih serius, terutama pada anak-anak, orang lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya.

Di sisi lain, mantan Presiden Medical Practitioners Coalition Association of Malaysia, dr Raj Kumar Maharajah, melaporkan adanya peningkatan sekitar 20 persen pada pasien yang mengalami masalah kesehatan akibat kabut asap. "Banyak pasien melaporkan mengalami gangguan pernapasan dan iritasi kulit. Terlihat jelas adanya peningkatan jumlah pasien. Asma pada pasien yang memang memiliki kondisi tersebut semakin memburuk hingga membutuhkan nebulisasi," ungkapnya.

Seorang dokter umum di klinik swasta yang enggan disebutkan namanya, dr Lim, juga melaporkan peningkatan pasien asma yang memerlukan terapi nebulisasi. Ia menyatakan bahwa kliniknya kini menerima rata-rata 10 pasien asma setiap hari untuk menjalani nebulisasi, jumlah yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi biasanya.

Selain itu, permintaan untuk masker di apotek komunitas juga meningkat. Presiden Malaysian Community Pharmacy Guild (MCPG), Sarah Abdullah, mengatakan bahwa masyarakat semakin banyak mencari masker untuk melindungi diri dari polusi udara. "Pasien meminta masker N95 dan KN95. Permintaan obat tetes mata juga meningkat," tuturnya.

Artikel Terkait