Jakarta - Sesak napas yang terjadi akibat menghirup asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Paparan asap karhutla dapat memicu sesak napas meskipun individu tersebut tidak mengalami infeksi.
Spesialis paru, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa mekanisme sesak napas yang disebabkan oleh asap karhutla berbeda dengan yang disebabkan oleh ISPA. "ISPA bisa menyebabkan sesak napas, tapi asap kebakaran hutan yang terhirup oleh kita, itu tanpa ada ISPA pun bisa sesak napas, karena tadi mekanismenya kan berbeda," ungkap Prof Agus dalam tayangan detikSore, Senin (20/10/2026).
Penyebab Sesak Napas dari Asap Karhutla
Prof Agus menjelaskan bahwa salah satu komponen dalam asap karhutla yang dapat menyebabkan sesak napas adalah karbon monoksida (CO). Gas ini dapat masuk ke dalam aliran darah dan berikatan dengan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen. Menurutnya, karbon monoksida memiliki kemampuan untuk mengikat hemoglobin sekitar 300 kali lebih kuat dibandingkan oksigen. Hal ini mengakibatkan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen ke jaringan tubuh menjadi berkurang.
"Akibatnya karena kita menghirup CO dari asap kebakaran hutan, maka hemoglobin kekurangan oksigen. Darah kita kekurangan oksigen, makanya kalau konsentrasinya besar, terhirup dalam waktu singkat, akan timbul sesak napas. Padahal belum terjadi ISPA," jelasnya.
Risiko Infeksi Saluran Pernapasan
Selain karbon monoksida, gas iritan dan partikel halus yang terdapat dalam asap karhutla juga dapat memicu sesak napas. Komponen-komponen ini dapat menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada saluran pernapasan, sehingga jalur udara menyempit dan mengurangi jumlah udara yang dapat masuk.
Di sisi lain, paparan asap karhutla juga dapat meningkatkan risiko terjadinya ISPA. Prof Agus menjelaskan bahwa infeksi ini dapat muncul ketika polutan mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan. Saluran pernapasan memiliki sistem pembersihan mukosilier (mucociliary clearance) yang berfungsi untuk membersihkan lendir, partikel asing, dan kotoran dengan bantuan silia atau rambut-rambut halus. Namun, paparan polutan dalam konsentrasi tinggi dapat mengganggu fungsi tersebut.
"Ketika kemampuan mukosilier terganggu, cenderung kuman-kuman yang terhirup ke saluran napas kita akan dapat mudah di situ dan berkembang biak. Menyebabkan terjadinya infeksi yang disebut sebagai infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA," paparnya.
Lebih lanjut, infeksi yang melibatkan saluran pernapasan bawah dan jaringan paru dapat menyebabkan pneumonia atau radang paru. Oleh karena itu, dampak dari paparan asap karhutla tidak hanya berupa gangguan pernapasan secara langsung, tetapi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi.