Rencana MSCI untuk menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market memicu perhatian serius dari para analis, yang memperkirakan akan ada tingkat volatilitas yang tinggi hingga keputusan akhir diumumkan. Pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami penurunan drastis sebesar 8% dan sempat mengalami trading halt. Di akhir sesi pertama, IHSG tercatat jatuh hingga 10,76% menjadi 5.233.
Analis dari Infovesta, Wawan Hendrayana, menyatakan bahwa sebagian besar arus keluar dana pasif telah terjadi sebelumnya. Ia menjelaskan, "Bobot Indonesia di MSCI EM turun dari 1,16% ke 0,43% dan konstituen tinggal sembilan saham." Jika klasifikasi Standalone Market disetujui, Wawan memperkirakan akan ada tambahan arus keluar modal sekitar US$ 13 miliar atau setara dengan Rp 234,5 triliun. Ia menambahkan, "Risiko lebih besar dari dana aktif yang mandatnya hanya boleh di pasar EM."
Dampak Signifikan terhadap Pasar
M. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Technical Analyst di PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, sependapat bahwa perubahan ini akan memberikan dampak yang signifikan, mulai dari aliran dana asing, likuiditas, hingga persepsi risiko investasi. "Perubahan tersebut berpotensi mengurangi eksposur saham Indonesia dalam portofolio investor institusional internasional," ungkap Nafan. Ia juga mencatat bahwa jika penyesuaian portofolio dilakukan secara bersamaan, tekanan jual bisa terakumulasi pada saham-saham dengan kapitalisasi besar, yang umumnya memiliki bobot indeks yang signifikan dan kepemilikan asing yang tinggi, termasuk bank-bank besar.
Nafan menambahkan, "Kondisi ini dapat meningkatkan volatilitas dan memperbesar risiko koreksi IHSG, terutama apabila disertai pelemahan rupiah serta arus keluar modal asing yang berkelanjutan." Ia menekankan bahwa besarnya dampak akan sangat bergantung pada keputusan akhir MSCI dan kemampuan investor domestik dalam menyerap tekanan jual yang ada.
Saham-Saham Rentan dan Strategi Investasi
Wawan membagi saham-saham yang berisiko menjadi dua kategori. Pertama, konstituen MSCI yang tersisa, seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, TLKM, dan ASII, di mana sektor keuangan mendominasi sekitar 72% bobot indeks. Kedua, saham dengan free float rendah seperti AMMN, DSSA, BREN, TPIA, dan CUAN, yang menurut Wawan sudah keluar dari indeks dan menghadapi risiko likuiditas serta valuasi yang tidak menguntungkan.
Dari segi teknikal, Wawan memprediksi bahwa support IHSG berada di kisaran 5.800 hingga 5.300. "Volatilitas tinggi akan berlanjut. Periode paling krusial adalah dari Februari hingga Juni 2027 menjelang keputusan final," ujarnya. Untuk sisa tahun 2026, ia menyarankan agar investor bersikap defensif dengan memilih emiten yang memiliki free float memadai, likuiditas yang baik, dividen stabil, dan tata kelola yang baik. Menurutnya, blue chip yang tertekan akibat faktor indeks bisa menjadi peluang untuk akumulasi secara bertahap.
Melihat ke depan, untuk tahun 2027, arah pasar akan sangat bergantung pada bukti reformasi yang terjadi sebelum bulan April. "Jika lolos, potensi rebound besar. Jika tidak, pasar akan lebih bergantung pada investor domestik seperti dana pensiun, asuransi, dan reksa dana," tutup Wawan.