Pemerintah Singapura telah mengumumkan pemberian subsidi pengobatan kepada warga yang terkena dampak kesehatan akibat kabut asap lintas negara. Kebijakan ini mulai diterapkan pada Senin, 12 Oktober 2026, setelah kualitas udara di negara tersebut mengalami penurunan yang signifikan.
Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, mengungkapkan bahwa skema subsidi ini diaktifkan kembali pada Minggu, 11 Oktober. Program ini memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan dengan biaya yang lebih terjangkau di klinik-klinik layanan kesehatan primer dan poliklinik.
Detail Subsidi dan Kelayakan
Menurut informasi dari Channel News Asia, semua warga negara Singapura berhak mendapatkan subsidi di poliklinik. Namun, untuk klinik yang tergabung dalam Public Health Preparedness Clinics (PHPCs), subsidi hanya berlaku bagi kelompok masyarakat tertentu. Pemegang kartu Public Assistance akan menerima layanan yang sepenuhnya disubsidi. Sementara itu, lansia yang termasuk dalam program Pioneer Generation dan Merdeka Generation hanya perlu membayar maksimal 5 dolar Singapura, yang setara dengan sekitar Rp 65 ribu.
Bagi warga Singapura lainnya yang memenuhi syarat, biaya pengobatan dibatasi hingga maksimal 10 dolar Singapura atau sekitar Rp 130 ribu. Program subsidi ini sebelumnya terakhir kali diaktifkan pada tahun 2015, ketika Singapura menghadapi salah satu episode kabut asap terburuk akibat kebakaran hutan di Indonesia, yang berlangsung selama beberapa minggu.
Penyakit yang Ditanggung oleh Subsidi
Di klinik PHPC yang berpartisipasi, subsidi ini tersedia bagi warga negara Singapura yang berusia 18 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas. Beberapa gangguan kesehatan yang ditanggung dalam skema ini mencakup rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infeksi saluran pernapasan atas, serta komplikasinya. Dokter akan mengevaluasi apakah kondisi pasien terkait dengan paparan kabut asap untuk menentukan kelayakan subsidi.
Obat-obatan akan diberikan sesuai kebutuhan selama periode pengobatan berlangsung. Masyarakat dapat mengakses daftar klinik PHPC yang berpartisipasi melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Singapura. Ong menyebutkan bahwa terdapat sekitar 1.370 klinik yang tergabung dalam skema PHPC, dan hampir 1.000 klinik di antaranya telah menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam program subsidi kabut asap.
Peningkatan Kasus Gangguan Pernapasan
Seiring dengan memburuknya kualitas udara, Ong melaporkan adanya peningkatan jumlah pasien dengan gangguan pernapasan yang datang ke instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit dari minggu ke minggu. Poliklinik juga mencatat peningkatan kasus serupa. Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan yang masih bisa ditangani di layanan kesehatan primer untuk mengunjungi klinik, bukan IGD rumah sakit.
Ong menekankan pentingnya menjaga kapasitas IGD agar tetap tersedia untuk pasien dengan kondisi serius yang memerlukan penanganan darurat. Rumah sakit juga telah mengambil langkah-langkah antisipasi terkait kabut asap, termasuk penggunaan ventilator dan pembersih udara, serta menutup jendela di ruang perawatan. Pemerintah juga sedang meninjau persediaan darurat dan stok kebutuhan kesehatan, dengan Ong memastikan bahwa persediaan yang ada masih mencukupi.
Kualitas Udara yang Mengkhawatirkan
Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) melaporkan bahwa kualitas udara di beberapa wilayah masih berada dalam kategori tidak sehat per 11 Oktober. Indeks Standar Polutan (PSI) diperkirakan akan berada dalam rentang tidak sehat hingga sangat tidak sehat dalam periode 24 jam berikutnya. Pada 9 Oktober, PSI di wilayah tengah Singapura mencapai angka 192 pada pukul 17.00 waktu setempat, menjadi salah satu pembacaan tertinggi selama musim kabut asap tahun ini.
Satuan tugas kabut asap Singapura, yang melibatkan 28 lembaga, menyatakan siap untuk menerapkan langkah-langkah tambahan jika PSI 24 jam melampaui angka 200. Langkah-langkah tersebut mencakup pembagian masker N95 kepada warga yang memenuhi syarat dan penyediaan tempat perlindungan berpendingin udara di beberapa pusat komunitas. Fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit umum, poliklinik, dan panti jompo, juga telah menerapkan langkah kesiapsiagaan, seperti menggunakan pembersih udara dan menutup jendela di ruang perawatan.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Singapura akan mempertimbangkan penutupan sekolah jika prakiraan kualitas udara untuk hari berikutnya masuk dalam kategori berbahaya, dengan PSI 24 jam melampaui 300.