Jakarta - Baru-baru ini, sebuah unggahan dari seorang dokter asal India, Dr. AK, menjadi viral di media sosial X setelah menunjukkan gambar dinding usus besar pasien yang tampak kehitaman seperti kulit harimau. Fenomena ini merupakan akibat dari penyalahgunaan obat pencahar (laxative abuse) yang memicu perdebatan, terutama di kalangan pengguna teh pelangsing, teh detoks, dan suplemen pencahar harian. Banyak individu mengonsumsi produk tersebut secara rutin dengan harapan dapat menghilangkan lemak dan menurunkan berat badan secara cepat. Namun, kebiasaan ini dapat menyebabkan ketergantungan dan merusak fungsi alami usus.
Bagaimana sebaiknya kita menyikapi penggunaan suplemen atau teh pelancar BAB agar tidak terjebak dalam kecanduan? Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterohepatologi, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, FINASIM, memberikan beberapa panduan penting.
Pahami Indikasi Obat dan Hindari Membeli Sembarangan
Dr. Aru menekankan pentingnya memahami fungsi dan indikasi kesehatan dari obat pencahar, baik yang berbentuk kemasan medis, herbal, maupun produk teh. Ia menyarankan agar konsultasi dengan dokter dilakukan sebelum menggunakan obat pencahar, terutama untuk tujuan penurunan berat badan. "Jadi, saran saya kalau seandainya ingin menggunakan obat-obat pencahar, apalagi untuk menurunkan berat badan, itu sebaiknya konsultasikan ke dokter dulu ya, ke tenaga medis yang dekat untuk kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut," ujarnya. Ia juga mengingatkan agar tidak sembarangan membeli produk pelancar BAB dari tempat yang tidak jelas legalitasnya.
Obat Pencahar Bukan Solusi Utama Menurunkan Berat Badan
Dr. Aru menjelaskan bahwa tujuan utama penggunaan pencahar adalah untuk mengatasi keluhan pada saluran pencernaan, bukan untuk membakar lemak tubuh. Menggunakan pencahar secara terus-menerus demi mencapai bentuk tubuh ideal justru dapat membahayakan kesehatan usus. "Kalau dia pengen menurunkan berat badan, mungkin ya tidak dengan pencahar, mungkin ada obat-obatan yang lain yang bisa membantu turunkan berat badan atau memperbaiki gaya hidup," tuturnya.
Utamakan Perbaikan Gaya Hidup Secara Alami
Alih-alih bergantung pada teh pelangsing atau pencahar yang berisiko menyebabkan laxative abuse, dr. Aru merekomendasikan pendekatan alami yang lebih aman dan berkelanjutan untuk melancarkan pencernaan. "Mungkin dimulai dengan memperbaiki gaya hidup, seperti memperbaiki pola makan, jadi tinggi serat, banyak minum air putih, olahraga, berjalan, habis makan nggak boleh berbaring, itu akan membantu gerakan usus, itu harus dikerjakan," sarannya. Dengan menerapkan pola hidup sehat, usus akan terstimulasi untuk berkontraksi secara alami tanpa memerlukan bantuan zat kimia atau bahan herbal pencahar yang dapat merusak dinding organ pencernaan.