Jakarta - Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat mengambil langkah proaktif setelah berita mengenai kematian seorang pekerja di institut pes di Siberia, Rusia. Pekerja tersebut dilaporkan meninggal dunia akibat pneumonia yang penyebabnya masih belum diketahui, yang menimbulkan kekhawatiran global mengenai kemungkinan penyebaran wabah pes paru (pneumonic plague).
Direktur CDC, Erica Schwartz, menyatakan bahwa saat ini risiko penyebaran infeksi tersebut ke wilayah AS tergolong sangat rendah. Walaupun demikian, pihak berwenang tetap bersiap untuk melakukan pengawasan ketat terhadap setiap penumpang yang datang dari daerah tersebut.
Kerja Sama dengan Berbagai Lembaga
Schwartz menjelaskan, "Kami bekerja sama dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri, Departemen Perang, serta lembaga pemerintah lainnya untuk memastikan kami tahu pasti jika ada orang dari wilayah tersebut yang masuk ke Amerika Serikat." Pernyataan ini disampaikan dalam acara The Future of Health yang berlangsung di Washington.
CDC juga telah menyiapkan pos kesehatan pelabuhan di Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK), New York, yang dirancang khusus untuk memantau dan melakukan pemeriksaan terhadap pelancong yang tiba dari Siberia.
Statistik Perjalanan dan Risiko Penularan
Seorang juru bicara dari Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat (HHS) AS mengungkapkan bahwa sekitar 200 orang dari wilayah Siberia melakukan perjalanan ke AS setiap tahunnya. Namun, risiko penularan langsung dinilai semakin kecil karena penerbangan langsung antara Rusia dan AS telah dihentikan sejak dimulainya perang Ukraina pada tahun 2022.
Pemerintah Rusia juga telah menegaskan bahwa tidak ada risiko lonjakan wabah di Siberia setelah insiden kematian tersebut. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memberikan tanggapan terkait isu ini, meyakini bahwa kematian pekerja di Siberia tidak disebabkan oleh senjata biologis. "Apa yang kami lakukan saat ini adalah memastikan kami memahami betul ancaman tersebut dari seluruh lini pemerintahan. Kami sangat yakin risikonya bagi Amerika Serikat sangat rendah," tutup Schwartz.