Tren berkumpul di coffee shop kini telah menjadi bagian dari gaya hidup Generasi Z. Aktivitas seperti mengerjakan tugas kuliah, bekerja dari kafe, hingga bersosialisasi sering kali ditemani dengan segelas es kopi susu yang modern. Namun, kebiasaan ini dapat berbahaya bagi kesehatan hati tanpa disadari.
Konsumsi gula berlebihan, susu murni, dan krimer dapat memicu atau memperparah kondisi fatty liver. Hati berfungsi untuk mengubah kelebihan gula menjadi lemak, sedangkan krimer dan susu yang tinggi lemak jenuh dapat membebani kinerja organ hati.
Pentingnya Memperhatikan Bahan Tambahan dalam Kopi
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Dicky Levenus Tahapary, SpPD-KEMD, PhD, menjelaskan bahwa meskipun kopi itu sendiri tidak menjadi masalah, perhatian harus diberikan pada bahan tambahan yang digunakan. "Tapi yang (masalah) tambahannya ini. Entah krimernya, entah gulanya, entah jenis gulanya. Kadang nggak pakai glukosa, pakainya pemanis-pemanis maple syrup, fruktosa, itu justru meningkatkan fatty liver," ungkap dr. Dicky saat ditemui di Jakarta Pusat.
Perbedaan Kebiasaan Ngopi di Dalam dan Luar Negeri
Dr. Dicky juga menyebutkan bahwa sekitar 25 tahun lalu, penelitian menunjukkan perbedaan efek dari kebiasaan ngopi antara masyarakat luar negeri dan Indonesia. "Kalau di luar negeri orang minum kopi risiko diabetesnya turun. Tapi kalau di Depok nggak, orang minum kopi diabetesnya naik," jelasnya. Ia menambahkan, "Ternyata minum kopinya kopi manis, kopi sachet. Kalau saya bilang itu mah air gula rasa kopi. Makanya minum kopinya jangan salahin minum kopinya yang salahin adalah pemanisnya sama aditif lainnya."
Meskipun saat ini mulai ada tren 'less sugar', seringkali kopi yang disajikan masih terasa sangat manis. "Definisi less sugar ini kan kita nggak tahu. Kadang less sugar manis banget loh less sugar-nya," tutup dr. Dicky.