Kantor Jaksa Agung Texas di Amerika Serikat telah memulai penyelidikan terhadap LinkedIn terkait tuduhan bahwa platform tersebut menampilkan lowongan kerja yang tidak nyata, atau yang biasa disebut ghost jobs. Penyelidikan ini berfokus pada dugaan bahwa LinkedIn mempromosikan layanan berlangganan premium tanpa menjelaskan bahwa beberapa lowongan yang ditawarkan sebenarnya tidak tersedia.
LinkedIn menawarkan layanan Premium untuk membantu penggunanya meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan. Namun, Jaksa Agung Texas, Ken Paxton, mengungkapkan bahwa pengguna yang telah membayar biaya langganan tidak mendapatkan manfaat yang dijanjikan oleh perusahaan. LinkedIn memiliki dua jenis langganan, yaitu Premium Career dengan biaya 39,99 dollar AS (sekitar Rp 719.500) per bulan, dan Premium Business seharga 69,99 dollar AS (sekitar Rp 1,2 juta) per bulan.
Dugaan Ghost Jobs
Dugaan mengenai ghost jobs ini muncul karena LinkedIn dianggap tidak melakukan verifikasi secara independen terhadap status perekrutan dari banyak lowongan yang dipublikasikan. Paxton menyatakan bahwa tanpa adanya verifikasi, banyak lowongan yang ditampilkan di LinkedIn ternyata sudah tidak aktif, tidak akan diisi, atau tidak mencerminkan peluang kerja yang sebenarnya.
Istilah ghost jobs bukanlah hal baru dalam dunia rekrutmen, di mana beberapa perusahaan tetap memasang iklan lowongan meskipun tidak sedang melakukan perekrutan. Beberapa studi independen yang dirujuk oleh Jaksa Agung Texas memperkirakan bahwa antara seperlima hingga sepertiga dari lowongan kerja yang dipublikasikan secara online adalah ghost jobs.
Langkah Selanjutnya dalam Penyelidikan
Pada Selasa, 14 Juli 2026, Jaksa Agung Texas Ken Paxton mengumumkan bahwa kantornya telah mengeluarkan Civil Investigative Demand (CID) untuk meminta dokumen, data, dan komunikasi internal dari LinkedIn. Paxton menyatakan, "Saya sedang menyelidiki apakah LinkedIn telah menyesatkan warga Texas dengan mempromosikan dan memperoleh keuntungan dari 'ghost jobs' sembari memasarkan dirinya sebagai platform tepercaya untuk mencari pekerjaan." Data internal yang akan diselidiki mencakup praktik periklanan, pemasaran, verifikasi lowongan kerja, serta layanan langganan Premium yang ditawarkan oleh LinkedIn.
Paxton menambahkan, "LinkedIn memiliki kewajiban untuk menyediakan layanan sebagaimana yang diiklankan dan memastikan bahwa konsumen yang membayar langganan Premium memperoleh akses ke lowongan pekerjaan yang sah."
Menanggapi tuduhan tersebut, LinkedIn membantah bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Perusahaan tersebut menegaskan bahwa semua lowongan kerja yang dipublikasikan di platform harus autentik dan disajikan dengan akurat. Seorang juru bicara LinkedIn menyatakan kepada Fox Business bahwa mereka juga menerapkan sistem otomatis dan peninjauan manual untuk mendeteksi dan menghapus lowongan yang melanggar kebijakan.
Investigasi oleh kantor Jaksa Agung Texas masih berlangsung, dan hingga saat ini, belum ada gugatan resmi yang diajukan terhadap LinkedIn.