🔴 Breaking
Kesehatan

IDI Menanggapi Isu 'Black Campaign' Terkait RS Penang dan Dokter Indonesia

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan tanggapan mengenai tuduhan 'black campaign' yang dilontarkan oleh selebgram Fahira Almira, yang membandingkan layanan medis di Indonesia dan Malaysia. Mereka m...

Arjuna Mahendra

Penulis

12 August 2026
5 kali dibaca
Foto: Getty Images/Khanchit Khirisutchalual
Foto: Getty Images/Khanchit Khirisutchalual

Jakarta - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) angkat bicara mengenai maraknya isu dugaan 'black campaign' yang dipicu oleh selebgram Fahira Almira. Fahira menarik perhatian publik setelah membagikan pengalamannya yang membandingkan pelayanan dan diagnosis dokter di Indonesia dengan rumah sakit di Penang, Malaysia.

Dr. dr Cashtry Meher, M.Kes, M.Ked(KK), SpDVE, FINSDV, MH.Kes, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Humas PB IDI, menyatakan bahwa setiap pasien berhak untuk menyampaikan pengalaman serta kritik terhadap pelayanan kesehatan. Namun, ia menegaskan bahwa pengalaman pribadi tidak seharusnya digeneralisasi untuk menjatuhkan reputasi seluruh dokter di Indonesia. "Kami memahami dan mengakomodasi perasaan masyarakat yang terjadi. Setiap pasien memiliki hak untuk menyampaikan pengalaman, tetapi terasa tidak mendapatkan penyelesaian yang sesuai dengan harapannya," ungkap dr Cashtry saat dihubungi pada Rabu (12/8/2026).

Kritik Kesehatan dan Generalisasi

Lebih lanjut, dr Cashtry menekankan bahwa kritik terhadap pelayanan kesehatan merupakan elemen penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Namun, ia juga mengingatkan agar pengalaman individual tidak langsung menyebabkan kesimpulan yang merugikan semua dokter di Indonesia. "Di samping itu, kritik terhadap pelayanan kesehatan juga merupakan bagian penting dari upaya memperbaiki kualitas kesehatan kita. Namun, kita juga perlu berhati-hati agar pengalaman individual tidak langsung menyebabkan kesimpulan yang menggeneralisasi seluruh dokter di Indonesia," tambahnya.

Diagnosis Medis yang Komprehensif

Menyusul tuduhan mengenai kesalahan diagnosis yang ramai diperbincangkan, dr Cashtry menjelaskan bahwa diagnosis medis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan. Ia menjelaskan bahwa dokter harus mempertimbangkan keseluruhan perjalanan penyakit pasien, mulai dari pemeriksaan fisik, laboratorium, hingga pemeriksaan penunjang seperti USG dan CT scan. "Diagnosis ini tidak ditentukan hanya oleh satu pemeriksaan. Dokter akan melihat keseluruhan perjalanan penyakit pasien berdasarkan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, serta pemeriksaan penunjang seperti USG, CT scan, atau pemeriksaan lain sesuai dengan indikasi yang berlaku," jelasnya.

Oleh karena itu, dr Cashtry menekankan bahwa seseorang tidak bisa langsung dianggap mengalami kesalahan diagnosis hanya berdasarkan satu hasil pemeriksaan atau dengan membandingkan hasil dari dua fasilitas kesehatan yang berbeda. Untuk menentukan adanya kesalahan diagnosis, perlu dilakukan penelusuran menyeluruh terhadap rekam medis pasien. "Untuk mengatakan apa benar terjadi kesalahan diagnosis, kita harus melihat keseluruhan rekam medis, kronologis klinis, hasil pemeriksaan, pertimbangan dokter pada saat itu, serta standar profesi yang berlaku," tuturnya.

Fahira juga memberikan tanggapan mengenai perbedaan hasil diagnosis antara fasilitas kesehatan di Indonesia dan rumah sakit di Penang. Ia menyatakan bahwa perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa salah satu dokter telah melakukan kesalahan. "Kondisi pasien dapat berubah, pemeriksaan dapat dilakukan pada waktu yang berbeda, modalitas pemeriksaan juga berbeda, dan interpretasi klinis juga sangat bergantung pada keseluruhan kondisi pasien saat diperiksa," ujarnya.

Dia menegaskan bahwa diskusi seharusnya tidak diarahkan untuk membandingkan dokter Indonesia dengan dokter luar negeri. "Karena itu, menurut saya yang paling sehat bukan mempertentangkan dokter Indonesia dengan dokter luar negeri. Yang harus kita cari adalah apa sebenarnya kondisi medis pasien tersebut berdasarkan rekam medis lengkap dari pasien tersebut," tambahnya.

Dr Cashtry juga membantah anggapan bahwa dokter di Indonesia terlalu bergantung pada hasil pemeriksaan laboratorium dalam menentukan diagnosis. Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium, fisik, dan pencitraan memiliki fungsi masing-masing dalam proses diagnosis. "Ini tidak tepat, karena kalau seolah-olah dokter harus memilih antara hasil laboratorium atau isi pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan fisik, imaging, dan imaging memiliki fungsi masing-masing," ujarnya.

Ia memberikan contoh kasus dugaan apendisitis, di mana diagnosis kondisi tersebut tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu jenis pemeriksaan. "Dalam kasus dugaan apendisitis ini, misalnya, diagnosis memang membutuhkan integrasi berbagai informasi klinis dan pemeriksaan penunjang, bahkan standar internasional sekalipun," jelas dr Cashtry. Dengan demikian, tidak ada satu pemeriksaan yang secara otomatis menjadi penentu diagnosis pada semua pasien. Diagnosis harus ditegakkan dengan mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh serta pemeriksaan yang sesuai.

Artikel Terkait