🔴 Breaking
Nasional

Jokowi Resmi Bergabung dengan PSI, Pengamat: Pengaruhnya Terbatas di Kalangan Masyarakat Umum

Joko Widodo yang baru saja bergabung sebagai kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dipandang dapat memperkuat dinamika internal partai, namun tidak signifikan dalam menarik dukungan masyarakat luas...

Fehardian Rahaja

Penulis

28 September 2026
5 kali dibaca
Presiden ke-7 RI, Jokowi meminta seluruh kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bekerja lebih keras memperkenalkan partai kepada masyarakat. [Suara.com/dok]
Presiden ke-7 RI, Jokowi meminta seluruh kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bekerja lebih keras memperkenalkan partai kepada masyarakat. [Suara.com/dok]

M. Jamiluddin Ritonga, seorang pengamat politik, menyatakan bahwa kehadiran Joko Widodo sebagai kader resmi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berpotensi meningkatkan dinamika di dalam partai. Pernyataan tersebut disampaikan pada hari Senin, 28 September 2026, di Universitas Esa Unggul. Menurutnya, meskipun Jokowi dapat memotivasi kader untuk beraktivitas langsung di lapangan, dampaknya terhadap dukungan eksternal dari masyarakat tidak terlalu besar.

Jamiluddin menilai bahwa bergabungnya Jokowi ke dalam PSI bisa memberikan semangat bagi para kader untuk lebih aktif dalam kegiatan politik. “Resminya Jokowi menjadi kader bisa saja berdampak terhadap penguatan di internal PSI. Bisa saja kader PSI lainnya lebih termotivasi untuk melakukan kerja-kerja politik dengan turun langsung ke masyarakat untuk mendulang suara,” ungkapnya pada kesempatan tersebut.

Pendorong Konsolidasi Internal PSI

Lebih lanjut, Jamiluddin menekankan bahwa kehadiran Jokowi juga dapat berfungsi sebagai pendorong bagi PSI dalam memperkuat konsolidasi organisasi. Hal ini termasuk dalam upaya memperbaiki struktur kepengurusan partai di berbagai daerah hingga tingkat ranting. Ia menambahkan bahwa pengaruh Jokowi di internal partai muncul karena ia dianggap sebagai role model oleh kader-kader PSI. “Karena itu, wajar bila kader PSI manut terhadap Jokowi,” jelasnya.

Di sisi lain, Jamiluddin membedakan pengaruh Jokowi di dalam PSI dengan dampaknya terhadap masyarakat luas. Ia menyatakan bahwa meskipun Jokowi menjadi panutan bagi kader PSI, hal ini tidak serta merta membuat masyarakat di luar partai memiliki pandangan yang sama. “Namun hal itu kiranya sulit terjadi di eksternal PSI. Sebab Jokowi bukanlah role model bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Karena itu, Jokowi bukan panutan mereka, sehingga tidak akan patuh apalagi mengikuti kehendak Jokowi,” ujarnya.

Basis Pendukung Jokowi yang Terbatas

Jamiluddin juga menyoroti bahwa basis pendukung Jokowi yang dapat memberikan dampak langsung terhadap perolehan suara PSI relatif kecil. “Kalau pun Jokowi dapat menjadi magnet massa, hal itu bisa jadi hanya terbatas pada pendukung fanatiknya. Basis massa dan loyalis Jokowi jumlahnya relatif terbatas, karena itu tidak cukup signifikan untuk mendongkrak elektoral PSI, termasuk menyumbang suara pada Pileg mendatang untuk mengantarkan PSI ke Senayan,” tuturnya.

Dengan demikian, Jamiluddin menyimpulkan bahwa meskipun bergabungnya Jokowi sebagai kader dapat memberikan ruang bagi penguatan kerja organisasi di internal PSI, pengaruhnya terhadap masyarakat di luar partai merupakan isu yang berbeda.

Artikel Terkait