Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengamati kondisi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut. Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah mencatatkan angka terendahnya, bahkan sempat menyentuh Rp 17.600 per dolar AS, yang menjadi rekor terlemah dalam sejarah.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menyatakan bahwa pelemahan ini menjadi perhatian serius bagi dunia usaha dan harus direspons dengan tindakan yang terkoordinasi. "Tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha, dan perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all-time low," ujarnya saat dihubungi.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Shinta menjelaskan bahwa faktor global berkontribusi besar terhadap melemahnya nilai tukar rupiah. Situasi geopolitik seperti perang antara AS dan Iran yang berkepanjangan, kenaikan harga minyak dunia, serta kondisi ekonomi AS yang mendorong penguatan dolar AS menjadi penyebab utama. "Kenaikan yield US Treasury yang dipicu oleh kebutuhan pembiayaan fiskal Amerika Serikat, termasuk eskalasi konflik geopolitik, telah mendorong terjadinya global capital reallocation menuju aset dolar AS," ungkapnya.
Dia juga menambahkan bahwa dampak dari kondisi ini dirasakan oleh hampir semua negara berkembang, termasuk Indonesia, yang mengalami tekanan nilai tukar dan peningkatan arus dana keluar. "Dalam konteks ini juga perlu dilihat bahwa tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda," jelasnya.
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah sebelumnya sempat mencapai Rp 17.612 per dolar AS pada 15 Mei 2026, yang dianggap sebagai pelemahan terparah. Analis pasar uang, Ariston Tjendra, menyatakan bahwa kondisi ini dapat terus berlanjut jika ketegangan di Timur Tengah tidak mereda dan harga minyak tetap tinggi. "Selama gejolak Timur Tengah belum reda dengan kenaikan harga minyak mentah, rupiah masih dalam tekanan," katanya.
Pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, juga menilai bahwa Rp 17.612 adalah angka terlemah sepanjang sejarah dan memprediksi bahwa pelemahan rupiah bisa mencapai Rp 18.000 per dolar AS. "Iya sementara (terlemah). Bakal ke Rp 18.000 (per dolar AS) jalan ini," ujarnya.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) optimis bahwa nilai tukar rupiah akan menguat dan stabil terhadap dolar AS. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa saat ini rupiah berada dalam kondisi undervalued dan fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat untuk mendukung stabilitas nilai tukar. "Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalued, dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," tuturnya.
Perry juga mengakui adanya tekanan jangka pendek yang menyebabkan pelemahan rupiah, yang dipengaruhi oleh faktor global dan musiman. Faktor global seperti tingginya harga minyak dan kenaikan suku bunga di AS menjadi penyebab utama. "Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," tambahnya.
Selain itu, kebutuhan dolar AS di dalam negeri meningkat pada periode April hingga Juni, yang terkait dengan pembayaran dividen, utang, dan biaya jemaah haji, turut berkontribusi pada tekanan nilai tukar rupiah.