🔴 Breaking
Ekonomi

Kenaikan Harga BBM Shell Indonesia Mulai 1 November 2026

Shell Indonesia mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 November 2026, dengan harga Shell V-Power Diesel meningkat menjadi Rp 27.620 per liter. Kenaikan ini terjadi di tengah lon...

Fayra Nugroho

Penulis

01 November 2026
30 kali dibaca
Petugas SPBU Shell mengisi bahan bakar mobil di kawasan bisnis Soewarna, Bandara Soetta, Tangerang, Banten(Liputan6.com/Angga Yuniar)
Petugas SPBU Shell mengisi bahan bakar mobil di kawasan bisnis Soewarna, Bandara Soetta, Tangerang, Banten(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Harga bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell Indonesia mengalami kenaikan pada hari Minggu, 1 November 2026. Berdasarkan informasi dari laman resmi Shell, harga untuk jenis BBM Shell V-Power Diesel ditetapkan sebesar Rp 27.620 per liter, meningkat Rp 2.200 dari harga sebelumnya yang tercatat Rp 25.420 per liter pada 1 Oktober 2026.

“Harga yang tercantum mengacu pada peraturan pemerintah yang berlaku,” demikian pernyataan yang terdapat di laman Shell. Kenaikan harga minyak global sebelumnya juga berkontribusi pada perubahan ini, di mana harga minyak mengalami lonjakan lebih dari 2% pada Jumat, 30 Oktober 2026, dan ditutup pada level tertinggi sejak akhir April. Kenaikan tersebut terjadi seiring dengan kekhawatiran pasar mengenai potensi ketegangan yang mungkin timbul akibat konflik yang melibatkan Iran setelah pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga Minyak

Selain itu, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz juga menambah perhatian terhadap risiko pasokan minyak. Mengacu pada laporan CNBC, harga minyak Brent untuk pengiriman Desember ditutup naik US$ 2,76 atau 2,4%, mencapai US$ 117,64 per barel, setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi di US$ 118. Sementara itu, harga minyak untuk kontrak Januari yang lebih aktif diperdagangkan meningkat US$ 2,63 menjadi US$ 113,43. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan sebesar US$ 2,12 atau 2,08%, menjadi US$ 104,12.

Dalam periode bulan tersebut, harga minyak Brent mencatat kenaikan sebesar 13,6%, sedangkan WTI meningkat sebesar 15,2%. “Para pedagang akan tetap fokus pada arus minyak dari Timur Tengah serta kemungkinan eskalasi oleh pasukan AS dan sekutunya,” kata Wakil Presiden Senior Bidang Perdagangan di BOK Financial, Dennis Kissler.

Situasi Keamanan di Kawasan Timur Tengah

Pada hari Jumat, sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terkena perangkat peledak yang dipasang dari perahu kecil, menurut UKMTO, layanan keamanan maritim Inggris. Hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, yang terjadi di jalur laut utama bagi pasokan minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk.

Dalam perkembangan lain, Kedutaan Besar AS di Riyadh mengumumkan bahwa pemerintah AS telah memerintahkan pegawai yang tidak bertugas dalam situasi darurat beserta anggota keluarga untuk meninggalkan Arab Saudi, mulai 23 Oktober. Keputusan ini diambil karena adanya risiko keamanan, yang merujuk pada serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur penting di Arab Saudi.

Kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengklaim telah melakukan serangan terhadap beberapa lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang minyak besar. Sementara itu, mediator dari Qatar berupaya untuk mencapai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, dengan Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Wakil Presiden JD Vance telah menghubungi Iran untuk menawarkan bantuan pasokan medis.

Harga minyak diperkirakan akan mengalami fluktuasi yang lebih besar dalam beberapa minggu ke depan, dipengaruhi oleh pemilihan umum di Israel dan pemilihan paruh waktu AS yang akan berlangsung pada 3 November. Saxo Bank memperkirakan harga minyak mentah akan berada dalam kisaran yang lebih tinggi, antara US$ 70 hingga US$ 90 per barel, bahkan setelah konflik berakhir.

Ekspor minyak mentah Arab Saudi pada bulan Oktober menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan September, di tengah serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk. Sementara itu, Badan Informasi Energi AS melaporkan bahwa produksi minyak mentah AS meningkat pada bulan Agustus, meskipun permintaan terhadap minyak mentah dan produk minyak bumi mengalami penurunan.

Di Libya, National Oil Corporation melaporkan bahwa sebuah kelompok bersenjata menutup katup di jalur pipa minyak mentah utama Hamada, menghentikan aliran minyak sekitar 15.000 barel per hari.

Artikel Terkait