Harga kedelai impor yang menjadi bahan utama pembuatan tempe mengalami peningkatan sebesar Rp2.000 per kilogram, yang berdampak pada pengusaha tempe di Jakarta Timur. Dalam situasi ini, mereka terpaksa memilih untuk mengecilkan ukuran tempe alih-alih menaikkan harga jual, mengingat kondisi ekonomi yang tidak mendukung.
Pak Hamdan, seorang pengusaha tempe rumahan di Jakarta Timur, menjelaskan bahwa harga kedelai yang digunakannya kini mencapai Rp600 ribu per karung dengan berat 50 kilogram, yang berarti harga per kilogramnya sekitar Rp12.000. Sebelumnya, pada akhir tahun lalu, harga kedelai berkisar antara Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Kenaikan ini dikaitkan dengan fluktuasi nilai dolar AS. "Memang ngikutin dolar. Karena ada perang ini kan, jadi ikutin dolar. Kalau naik, kita ikut naik," ungkap Hamdan saat ditemui di tempat usahanya pada Sabtu (3/10/2026).
Tekanan Ekonomi dan Biaya Produksi
Kedelai yang digunakan oleh pengrajin tempe di daerah tersebut merupakan kedelai impor dari Amerika Serikat, dengan merek-merek yang umum digunakan seperti Bola dan Hiu. Hamdan memilih kedelai merek Bola karena dianggap memiliki kualitas yang lebih baik. Kenaikan harga kedelai ini terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, yang ditutup pada level Rp17.981 per dolar AS pada Selasa (29/9/2026). Sejak awal tahun 2026, dolar AS telah menguat sekitar 7,67% terhadap rupiah.
Selain kenaikan harga bahan baku, Hamdan juga menghadapi biaya tambahan untuk plastik sekitar Rp50 ribu dan daun sekitar Rp100 ribu, di luar biaya untuk ragi dan produksi lainnya. Meskipun demikian, ia menyatakan bahwa beberapa biaya masih dapat ditekan dengan cara mengatur penggunaan bahan. "Kita pintar-pintar mengolahnya," ujarnya.
Strategi Menghadapi Kenaikan Harga
Hamdan membeli kedelai secara eceran dari agen dengan harga sekitar Rp12.000 per kilogram, yang setara dengan Harga Acuan Pembelian (HAP) kedelai impor. Namun, ia tidak berani untuk menaikkan harga jual tempe karena khawatir akan kehilangan pelanggan. "Kalau harga naik, pada teriak. Ini kan home industry, kalau kita naikin, nggak laku," katanya.
Apabila harga kedelai kembali mengalami kenaikan, strategi yang akan diterapkan Hamdan bukan dengan menaikkan harga jual, melainkan dengan mengurangi ukuran tempe. Situasi ini mencerminkan bagaimana pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan baku impor dapat memberikan tekanan langsung pada usaha kecil. Pengusaha dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan harga dan mengecilkan produk atau menaikkan harga dengan risiko kehilangan pembeli.
Data dari Gakoptindo per 8 September menunjukkan bahwa rata-rata harga kedelai impor secara nasional mencapai Rp13.762 per kilogram, sementara di beberapa wilayah di Jawa, harga kedelai masih berada di bawah HAP.