🔴 Breaking
Kesehatan

Kenaikan Kasus Fatty Liver di Usia 30-an, Gejala Sering Terlewatkan

Penyakit fatty liver atau perlemakan hati semakin banyak dialami oleh individu berusia 30-an, sering kali tanpa gejala yang jelas. Hal ini membuat banyak orang baru menyadari kondisi mereka saat sudah...

Eko Prasetyo

Penulis

12 June 2026
7 kali dibaca
Kenaikan Kasus Fatty Liver di Usia 30-an, Gejala Sering Terlewatkan
Ilustrasi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/magicmine)

Jakarta - Penyakit perlemakan hati, yang dikenal dengan istilah fatty liver, sering disebut sebagai pembunuh diam-diam. Sebutan ini muncul karena penumpukan lemak dalam sel-sel hati biasanya berlangsung tanpa gejala yang mencolok di awal. Banyak orang baru menyadari adanya masalah pada hati mereka saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin atau ketika kondisi tersebut sudah berkembang menjadi peradangan yang serius.

Dokter spesialis penyakit dalam, Prof Dr dr Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH, menjelaskan bahwa pada umumnya fatty liver tidak menunjukkan gejala di fase awal. "Biasanya, gejala atau tanda akan muncul ketika kondisi ini sudah masuk ke fase serius, sehingga perlunya tindakan cepat untuk penanganan," ujarnya saat ditemui di Jakarta Pusat.

Gejala yang Sering Diabaikan

Prof Rino menambahkan, jika seseorang mulai merasakan nyeri atau ketidaknyamanan di area hati, itu bisa jadi pertanda bahwa kondisi sudah lebih serius. "Kalau sudah ada gangguan seperti nyeri atau sakit di hati, harus timbul pertanyaan, jangan-jangan kondisi sudah lebih berat," jelasnya. Di sisi lain, pada fase awal fatty liver, gejala yang muncul sangat minim. "Kondisi gini (stage awal fatty liver, red) nggak akan menimbulkan gejala apa-apa," tuturnya.

Beliau juga menyatakan bahwa kondisi fatty liver di Indonesia cukup memprihatinkan, terutama di kalangan usia muda. "Data kami sih, usia muda ya, usia produktif ya. Usia 30 sampai 50-an tahun," ungkapnya. Bahkan, kondisi ini bisa juga menyerang remaja yang berusia belasan tahun, terutama jika mereka memiliki masalah obesitas sejak kecil. "Jarang sekali sih di bawah 20 tahun. Tapi tergantung juga sih, kalau ada anak yang dari awalnya gede, udah gemuk, fatty liver biasanya," tambahnya.

Program Skrining Kesehatan Hati

Menyikapi masalah ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang mencakup pemeriksaan khusus untuk kondisi hati. Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa pemeriksaan kondisi liver dilakukan melalui tes darah di CKG. "Untuk melihat risiko apakah ada pengerasan hati atau gangguan hati. Jadi sebenarnya di CKG itu sudah cukup lengkap pemeriksaan dasar untuk skrining kita," ujarnya.

Dr Nadia menekankan pentingnya skrining bagi orang sehat agar mereka tetap mengetahui kondisi kesehatan mereka dan dapat mendeteksi lebih awal jika ada gangguan pada hati. "Kita menyasar orang sehat, supaya dia tetap sehat. Supaya dia tahu lebih dini kalau misalnya ada gangguan atau kelainan pada hati tadi," tutupnya.

Artikel Terkait