Jakarta - Indonesia kini tidak hanya dilihat sebagai pasar besar untuk industri farmasi dan produk kesehatan, tetapi juga sebagai mitra strategis yang memiliki sistem regulasi diakui secara internasional. Hal ini terungkap dalam kunjungan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof dr Taruna Ikrar, M.Biomed, PhD, beserta delegasi ke China, di mana salah satu fokus utama adalah memperkuat kerja sama dengan National Medical Products Administration (NMPA) China.
Pertemuan ini bertujuan untuk memfasilitasi penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) baru antara BPOM dan NMPA, yang akan memperluas kerja sama regulatori antara kedua negara. "Draft sudah selesai dan dalam waktu dekat akan dilakukan penandatanganan," ungkap Taruna Ikrar di Beijing.
Perluasan Kerja Sama di Berbagai Sektor
Kerja sama yang direncanakan tidak hanya terbatas pada pengawasan obat, tetapi juga mencakup vaksin, produk biologis, bahan baku farmasi, obat bahan alam, kosmetik, serta pengembangan teknologi regulatori digital dan kecerdasan buatan dalam sektor kesehatan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan kesehatan Indonesia dan memperkuat posisinya dalam rantai pasok farmasi global.
Taruna menambahkan bahwa salah satu agenda penting adalah mendorong investasi dan transfer teknologi dari China ke Indonesia, terutama dalam sektor vaksin dan produk biologis. "Beberapa teknologi, terutama teknologi vaksin, akan masuk ke Indonesia melalui investasi dan kerja sama industri. Yang kita dorong bukan hanya masuknya produk, tetapi juga investasi, transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia," jelasnya.
Modal Baru dalam Diplomasi Kesehatan
Hubungan Indonesia dan China di bidang kesehatan kini semakin kuat, terutama setelah BPOM memperoleh status WHO-Listed Authority (WLA) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pengakuan ini menegaskan bahwa BPOM telah memenuhi standar internasional dalam regulasi vaksin, yang memberikan peluang lebih besar bagi Indonesia untuk berkolaborasi dalam regulasi dan akses produk kesehatan secara global.
Taruna menyatakan, "Indonesia memiliki keunggulan dalam sistem regulasi dan tata kelola produksi karena BPOM sudah menjadi WHO-Listed Authority. Ini bukan hanya pengakuan terhadap BPOM, tetapi juga modal strategis bagi industri farmasi dan kesehatan Indonesia untuk semakin terhubung dengan ekosistem global." Dengan kekuatan regulatori yang diakui, Indonesia kini dapat berperan lebih aktif dalam kolaborasi internasional dan meningkatkan daya saing di pasar global.
Selain itu, dalam rangkaian kunjungan ke China, Taruna juga berpartisipasi dalam International Biomedical Industry Innovation Conference dan forum mengenai AI + New Medical Technology. Di forum ini, ia membahas pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengembangan teknologi kedokteran baru, termasuk pengawasan terhadap Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs).
Taruna menekankan pentingnya adaptasi regulasi terhadap inovasi teknologi, "Regulator tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi. Regulasi harus mampu menjaga keselamatan masyarakat, tetapi pada saat yang sama juga harus adaptif terhadap inovasi." Kerja sama dengan universitas dan pusat penelitian terkemuka, seperti Universitas Tsinghua, diharapkan dapat memperkuat ekosistem kesehatan masa depan Indonesia.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar bagi teknologi kesehatan global, tetapi juga sedang membangun kapasitas untuk menjadi mitra dalam inovasi, investasi, produksi, serta regulasi kesehatan di tingkat internasional.