Jakarta - Media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh insiden yang melibatkan serangan terhadap seorang dokter dan tenaga kesehatan (nakes). Peristiwa ini berawal dari keluhan seorang pasien BPJS Kesehatan mengenai lamanya proses untuk mendapatkan ruang rawat inap. Alih-alih menerima dukungan emosional yang baik, unggahan pasien tersebut justru diserbu oleh komentar negatif yang diduga berasal dari oknum dokter dan nakes. Tragisnya, pasien tersebut dilaporkan meninggal dunia, memicu kemarahan publik yang meluas.
Netizen pun beramai-ramai mencari identitas para nakes yang berkomentar tidak empatik dan menyerang akun tempat mereka bekerja. Spesialis kedokteran jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyatakan bahwa kejadian ini menunjukkan betapa rapuhnya hubungan manusia saat tertekan oleh sistem dan pengaruh media sosial. Ia kemudian mengajak masyarakat untuk berpikir bijak dalam merespons situasi yang memanas ini.
Pentingnya Empati dengan Batasan
dr Lahargo menekankan bahwa memiliki rasa empati harus disertai dengan batasan etika dan profesionalisme yang sehat, atau yang dikenal dengan istilah "compassion with boundaries". Baik tenaga kesehatan maupun masyarakat perlu menyadari bahwa empati tidak berarti membenarkan semua perilaku emosional, melainkan menghargai perasaan orang lain tanpa melanggar norma. "Di balik seragam tenaga kesehatan ada manusia yang lelah. Namun, di balik status pasien ada manusia yang sedang ketakutan dan berharap ditolong. Pada akhirnya, pelayanan kesehatan adalah perjumpaan antara manusia dengan manusia," ungkap dr Lahargo.
Menjaga Sikap Terhadap Komentar Negatif
Meskipun kemarahan yang dirasakan netizen muncul dari rasa solidaritas terhadap korban, dr Lahargo mengingatkan agar amarah tersebut tidak berujung pada tindakan perundungan massal yang merendahkan martabat orang lain. "Seberat apa pun rasa kecewa atau tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan," tegasnya.
Prinsip THINK untuk Berkomunikasi di Media Sosial
Untuk menghindari keruhnya ruang digital akibat kemarahan dan ujaran kebencian, dr Lahargo menyarankan agar publik menerapkan lima pertanyaan reflektif sebelum mengunggah komentar. Pertanyaan tersebut adalah: True (Apakah yang ditulis ini benar dan sesuai fakta?), Helpful (Apakah tulisan ini membantu perbaikan keadaan?), Inspiring (Apakah kalimat ini memberikan harapan?), Necessary (Apakah komentar ini memang perlu disampaikan?), dan Kind (Apakah pesan disampaikan dengan keadaban dan rasa kasih?).
Melatih Empati Sebagai Kebiasaan
dr Lahargo juga mengingatkan bahwa empati bukanlah kemampuan yang datang secara alami, melainkan sesuatu yang dapat dipelajari dan dilatih secara terus-menerus. "Semakin sering kita mendengarkan tanpa menghakimi dan memilih kata-kata yang membangun, semakin kuat pula kemampuan empati kita, baik di rumah sakit maupun di dunia digital," tutupnya.