🔴 Breaking
Kesehatan

Mengungkap Misteri Jenazah 'Green Boots' yang Awet di Everest Selama 30 Tahun

Jasad pendaki yang dikenal sebagai 'Green Boots' yang terjebak di Gunung Everest selama tiga dekade akan segera dievakuasi. Penjelasan ilmiah mengenai keawetan jenazah di suhu ekstrem menjadi sorotan.

Sekar Wangi

Penulis

11 August 2026
7 kali dibaca
Ilustrasi Gunung Everest. (Foto: Getty Images/hadynyah)
Ilustrasi Gunung Everest. (Foto: Getty Images/hadynyah)

Jasad seorang pendaki yang terjebak di lereng Gunung Everest selama 30 tahun, yang dikenal dengan sebutan 'Green Boots', akan dipulangkan. Pemerintah India berencana mengirim tim penyelamat untuk melaksanakan misi berisiko tinggi di ketinggian ekstrem untuk mengevakuasi jenazah tersebut. 'Green Boots', yang diperkirakan merupakan pendaki asal India bernama Dorje Morup, meninggal akibat badai salju saat turun dari puncak Everest pada tahun 1996.

Meskipun telah berada di dalam lapisan es selama tiga dekade, jenazahnya tidak mengalami pembusukan seperti yang biasanya terjadi. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai penjelasan ilmiah dan medis di balik fenomena keawetan jenazah dalam suhu dingin yang ekstrem.

Fenomena Pembekuan Alami di Everest

Menurut informasi yang diperoleh, Gunung Everest saat ini menyimpan lebih dari 200 jenazah pendaki yang terperangkap di zona ketinggian. Proses pembusukan jaringan tubuh yang biasanya dipicu oleh bakteri dan serangga terhenti total di lingkungan ini. Di ketinggian lebih dari 6.000 meter dari permukaan laut, suhu hampir tidak pernah melewati titik beku, yang menyebabkan pembusukan jaringan terhenti karena beberapa faktor penting:

  • Absennya aktivitas bakteri: Mikroorganisme yang biasanya menyebabkan pembusukan tidak dapat bertahan hidup atau berkembang biak dalam suhu yang sangat rendah.
  • Kelembapan yang sangat rendah: Udara di puncak Everest sangat kering, berfungsi seperti freezer alami yang menghilangkan kadar air dari jaringan tubuh, sehingga memicu proses mumi alami.
  • Minimnya organisme pengurai: Hewan pemakan bangkai dan serangga tidak dapat bertahan hidup di zona dengan kadar oksigen yang sangat rendah.

Kombinasi dari faktor-faktor ini membuat struktur wajah dan fisik jenazah yang sudah puluhan tahun di Everest masih dapat dikenali dengan jelas.

Dampak Suhu Dingin pada Jenazah

Penelitian tentang efek suhu dingin terhadap kondisi jenazah juga dilakukan oleh ilmuwan forensik Lavinia Iancu dan Noemi Procopio dari University of North Dakota (UND). Dalam studi mereka di Grand Forks, salah satu daerah terdingin di Amerika Serikat dengan suhu mencapai minus 40 derajat Celsius, ditemukan bahwa parameter kematian tradisional sering kali tidak berlaku di lingkungan dingin. "Tubuh mendingin jauh lebih cepat dalam kondisi dingin, yang dapat membiaskan perkiraan waktu kematian jika hanya mendasarkan pada suhu tubuh," ungkap penelitian yang dipublikasikan oleh UND Today.

Beberapa perubahan fisik yang terjadi pada jenazah di lingkungan dingin meliputi:

  • Penundaan 'rigor mortis': Proses kaku mayat menjadi tertunda, dan durasinya berlangsung jauh lebih lama dibandingkan pada suhu normal.
  • Terhentinya dekomposisi: Aktivitas enzimatik dan penguraian oleh mikroba terhenti total akibat pembekuan cairan sel.
  • Efek isolasi salju: Tumpukan salju yang menutupi jenazah dapat bertindak sebagai isolator, menyimpan sisa panas tubuh sehingga laju pembusukan berlangsung sangat lambat dibandingkan dengan jenazah yang terpapar udara terbuka.

Dengan penjelasan ini, semakin jelas mengapa jenazah 'Green Boots' dapat bertahan dalam kondisi yang ekstrem selama bertahun-tahun.

Artikel Terkait