🔴 Breaking
Mengingat 15 Tahun Kepergian Steve Jobs dan Perjalanan Pendiri Apple Pentingnya Menjaga Kesehatan Paru-paru pada Lansia Unwahas Selenggarakan Edukasi Hukum dan Kesehatan untuk Pekerja Migran Indonesia di Malaysia Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari dalam Wawancara Kerja Mengapa Tubuh Lelah Namun Susah Tidur? Temukan Penyebabnya Mahasiswa UIN Saizu Mengukir Prestasi di Nusantara Writing Festival 6 --- Suahasil Nazara Lantik 17 Pejabat Baru Kemenkeu, Tekankan Pentingnya Target APBN 2026 --- Indonesia Tegaskan Penegakan Hukum terhadap KKB di PBB, Perlindungan Warga Sipil Jadi Sorotan Keunggulan Hacker dalam Memanfaatkan AI Menjadi Tantangan bagi Keamanan Siber Kepala BPOM Ingatkan Pentingnya Bukti Ilmiah dalam Tren Probiotik untuk Kesehatan Usus dan Kulit Mengingat 15 Tahun Kepergian Steve Jobs dan Perjalanan Pendiri Apple Pentingnya Menjaga Kesehatan Paru-paru pada Lansia Unwahas Selenggarakan Edukasi Hukum dan Kesehatan untuk Pekerja Migran Indonesia di Malaysia Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari dalam Wawancara Kerja Mengapa Tubuh Lelah Namun Susah Tidur? Temukan Penyebabnya Mahasiswa UIN Saizu Mengukir Prestasi di Nusantara Writing Festival 6 --- Suahasil Nazara Lantik 17 Pejabat Baru Kemenkeu, Tekankan Pentingnya Target APBN 2026 --- Indonesia Tegaskan Penegakan Hukum terhadap KKB di PBB, Perlindungan Warga Sipil Jadi Sorotan Keunggulan Hacker dalam Memanfaatkan AI Menjadi Tantangan bagi Keamanan Siber Kepala BPOM Ingatkan Pentingnya Bukti Ilmiah dalam Tren Probiotik untuk Kesehatan Usus dan Kulit
Kesehatan

Pentingnya Menjaga Kesehatan Paru-paru pada Lansia

Pneumonia tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama pada lansia. Edukasi mengenai pneumonia pneumokokus perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih memahami risiko penyakit ini.

Arjuna Mahendra

Penulis

05 October 2026
5 kali dibaca
Foto: Angelina Vioni/detikcom
Foto: Angelina Vioni/detikcom

Jakarta - Pneumonia, yang merupakan infeksi pada paru-paru, masih menjadi masalah kesehatan yang serius, terutama bagi kelompok usia lanjut. Tingkat pemahaman masyarakat Indonesia mengenai pneumonia, khususnya pneumonia pneumokokus, masih tergolong rendah. Hal ini menjadi perhatian dalam kampanye edukasi bertajuk 'Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti' yang diadakan oleh Pfizer Indonesia. Dalam kampanye ini, Pfizer Indonesia mengumpulkan dokter spesialis, dokter keluarga, serta perwakilan pasien dan caregiver di Jakarta untuk membagikan hasil survei terkait kesehatan pernapasan orang dewasa.

Survei terbaru yang dilakukan oleh YouGov menunjukkan bahwa 41% orang dewasa di Indonesia tidak pernah mendengar istilah pneumonia pneumokokus. Sementara itu, 44% pernah mendengarnya tetapi tidak memahami kondisi medis tersebut, dan hanya 15% yang mengenal serta memahami penyakit ini dengan baik.

Pneumonia Pneumokokus dan Penyebabnya

Pneumonia pneumokokus disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae. Penyakit ini berbeda dengan flu yang disebabkan oleh virus, meskipun keduanya dapat menyerang saluran pernapasan. Survei juga mengungkapkan adanya kesalahpahaman mengenai pneumonia, di mana 20% responden beranggapan bahwa pneumonia sama dengan flu, sedangkan 48% lainnya memilih jawaban netral.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi, dr. Joyce Bratanata, menjelaskan bahwa pneumonia adalah infeksi pada saluran napas bagian bawah yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, termasuk bakteri, virus, dan jamur. "Kalau pneumonia, itu ada disebabkan oleh mikroba ya. Mikroba itu apa? Benda kecil sebenarnya, tapi dia itu bisa menjadi patogen. Jadi bisa bakteri penyebabnya, bisa virus, bisa jamur. Ya itu tiga yang utama," ungkap dr. Joyce dalam diskusi panel kampanye tersebut.

Risiko Pneumonia pada Lansia

Menurut dr. Joyce, infeksi saluran pernapasan akut dapat berkembang menjadi pneumonia, sehingga kesehatan orang tua perlu diperhatikan, terutama jika muncul keluhan yang tidak kunjung membaik. Banyak orang Indonesia mengaitkan risiko pneumonia dengan penyakit paru-paru, di mana 42% responden menyebutkan orang dengan penyakit paru-paru sebagai kelompok yang lebih berisiko mengalami pneumonia serius. Hanya 11% yang menyebutkan orang dengan penyakit jantung dan 9% untuk penyandang diabetes.

Padahal, risiko pneumonia pada lansia juga berkaitan dengan kondisi kesehatan lain yang dimiliki. Dr. Joyce menambahkan bahwa lansia seringkali memiliki satu atau lebih komorbid, seperti diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan stroke. "Kalau misalnya orangnya lansia, apalagi 60 tahun ke atas, punya penyakit diabetes, asma, kardiovaskular, riwayat stroke," ujarnya.

Selain itu, individu dengan kondisi imunitas yang terganggu juga perlu lebih waspada. Kebiasaan merokok dan paparan asap rokok juga disebut sebagai faktor yang dapat meningkatkan kejadian pneumonia.

Pentingnya Memperhatikan Kesehatan Orang Tua

Lebih dari separuh orang dewasa di Indonesia (55%) secara rutin merawat orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua. Mereka mendampingi orang tua ke dokter, membantu mengatur konsumsi obat, dan seringkali terlibat dalam pengambilan keputusan terkait kesehatan anggota keluarga. Bagi keluarga yang merawat lansia, penting untuk mengenali perubahan kondisi tubuh. Menurut dr. Joyce, gejala yang tampak sederhana perlu diperhatikan, terutama jika tidak kunjung membaik atau justru semakin memburuk.

Batuk yang berlangsung beberapa hari tanpa perbaikan, misalnya, perlu dikonsultasikan kepada dokter, terutama jika disertai demam, tubuh semakin lemas, atau napas terasa lebih berat. "Nah kalau pada lansia, kalau dia tidak perbaikan 3-4 hari, apalagi ada gejala misalnya selain demam, dia lebih lesu, lebih banyak tidur," paparnya.

Pada kondisi tertentu, lansia juga dapat mengalami penurunan saturasi oksigen. Dr. Joyce menjelaskan bahwa kondisi seperti mengantuk, bengong, atau berbicara tidak nyambung bisa menjadi tanda yang perlu segera diperiksa. "Jadi masih bisa ngomong kalau ditanya, masih sadar, tapi kita bilangnya effort of breathing," katanya.

Oleh karena itu, keluarga tidak perlu menunggu kondisi orang tua memburuk untuk memperhatikan kesehatannya. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan komunikasi dengan dokter dapat membantu mengetahui kondisi tubuh, termasuk saat belum ada gejala yang muncul.

Banyak responden percaya bahwa menjaga kesehatan sejalan dengan keyakinan mereka. Hampir delapan dari sepuluh (79%) setuju bahwa menjaga kesehatan dengan mengikuti saran medis merupakan bagian dari ikhtiar, berdampingan dengan tawakal. Bagi keluarga yang memiliki pandangan tersebut, berkonsultasi dengan dokter mengenai risiko kesehatan adalah bagian dari ikhtiar yang mereka lakukan untuk orang-orang terkasih.

Presenter TV dan publik figur Fenita Arie berbagi pengalamannya setelah mengalami pneumonia, yang membuatnya lebih memperhatikan kesehatan dirinya dan orang-orang terdekat, termasuk mertuanya. Fenita awalnya mengira batuk dan pilek yang dialaminya adalah keluhan biasa, namun kondisinya memburuk hingga mengalami kesulitan bernapas dan memerlukan penanganan medis. Pengalaman ini mengingatkan keluarga untuk tidak menganggap perubahan kondisi kesehatan orang tua sebagai hal yang wajar hanya karena faktor usia.

Fenita juga mengajak anak dan caregiver untuk lebih aktif menanyakan kondisi kesehatan orang tua. Menurutnya, perhatian tersebut tidak cukup hanya dilakukan melalui percakapan, tetapi juga dengan membawa orang tua memeriksakan kesehatan mereka ke dokter saat muncul keluhan. "Kita benar-benar nemenin orang tua kita, datangin ke dokter konsultasi," ujarnya.

Dokter Keluarga Prodia, dr. Kristin Tjandra, mendorong masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka melalui pemeriksaan dan membangun komunikasi dengan dokter. Dengan cara ini, kondisi kesehatan dapat diketahui dan dipantau lebih awal. "Kebanyakan kita di Indonesia, khususnya datang ke dokter itu selalu ada keluhan," ujarnya.

Di sisi lain, Dokter Keluarga Kimia Farma, dr. Meidi Nursasih, juga mendorong masyarakat untuk segera berkonsultasi kepada dokter jika mengalami gejala yang mengkhawatirkan. "Dan kalau kita bertanya juga sebenarnya memang pada dasarnya dia enggak akan pernah keberatan," ungkapnya.

Kampanye ini mengingatkan keluarga bahwa menjaga kesehatan paru-paru sama pentingnya dengan menjaga berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari. Kampanye ini mengajak orang dewasa untuk memandang kesehatan mereka sebagai bagian dari menjaga satu sama lain, termasuk ketika orang yang mereka cintai tampak sehat dan aktif. "Merawat seseorang juga berarti memahami risiko kesehatan yang mungkin tidak mereka sadari sendiri," kata Deborah Seifert, Cluster Lead, Pfizer Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

"Melalui 'Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti', kami ingin membantu masyarakat merasa siap untuk bertanya dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai risiko yang akan mereka hadapi," jelasnya.

Artikel Terkait