Jakarta - Beberapa waktu lalu, teknologi yang mengubah ASI (Air Susu Ibu) menjadi bubuk sempat menjadi perhatian publik. Namun, para ahli mengingatkan bahwa hingga kini belum ada bukti yang sahih mengenai manfaat dan keamanan dari produk tersebut.
Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, Subsp. Neo(K), menegaskan bahwa metode pemberian ASI yang paling dianjurkan saat ini adalah Direct Breast Feeding (DBF) atau menyusui langsung. Metode ini tidak hanya memastikan bahwa bayi mendapatkan nutrisi yang lengkap, tetapi juga memberikan berbagai manfaat lainnya.
Manfaat Menyusui Langsung
Menurut Dr. Naomi, menyusui langsung memungkinkan terjadinya ikatan emosional antara ibu dan bayi. Selain itu, interaksi selama proses menyusui juga memberikan stimulasi motorik dan sensorik yang penting bagi perkembangan otak bayi. "Kalau memungkinkan, direct breast feeding adalah yang terbaik," tegasnya dalam diskusi dengan detikcom pada Jumat (7/8/2026).
Perbedaan antara ASI Bubuk dan HMF
Dr. Naomi juga menjelaskan pentingnya membedakan antara ASI bubuk dengan Human Milk Fortifier (HMF) yang juga tersedia dalam bentuk bubuk. HMF digunakan dalam kondisi khusus, seperti untuk bayi prematur di Neonatus Intensive Care Unit (NICU) di bawah pengawasan medis. "Jadi bayi-bayi kecil itu dengan ASI kalorinya tidak mencukupi, kita tambah dengan Human Milk Fortifier untuk menambah zat-zat tertentu sehingga pertumbuhannya optimal," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa HMF berbeda dari ASI yang diubah menjadi bubuk dan tidak seharusnya diperjualbelikan. "HMF beda, bukan ASI yang dibentuk jadi bubuk, terus apalagi diperjual belikan," tambahnya.
Dengan penjelasan ini, penting bagi masyarakat untuk memahami manfaat menyusui langsung dan perbedaan antara produk ASI yang ada di pasaran.