Jakarta - Banyak individu yang beranggapan bahwa semakin sering mereka buang air besar (BAB) setelah mengonsumsi teh pelangsing, teh detoks, atau suplemen diet, itu berarti lemak dalam tubuh sedang dihilangkan. Persepsi ini menyebabkan produk pelancar BAB menjadi populer dan dikonsumsi secara rutin tanpa konsultasi medis. Namun, apakah benar kebiasaan memicu BAB secara berlebihan ini dapat membantu menurunkan berat badan dengan cara yang sehat?
Konsultan Gastroenterohepatologi dari Mayapada Hospital, dr Aru Ariadno, Sp.PD-KGEH, FINASIM, menegaskan bahwa mengonsumsi obat pencahar atau teh pelancar BAB tanpa pengawasan medis bukanlah langkah yang tepat. Menggunakan produk ini tanpa saran dari ahli kesehatan dapat dikategorikan sebagai penyalahgunaan obat pencahar, atau laxative abuse.
Risiko Swamedikasi untuk Tubuh Ideal
Menurut dr Aru, keinginan untuk memiliki tubuh ideal sering kali mendorong seseorang untuk melakukan swamedikasi yang dapat merugikan sistem pencernaan. “Jadi, itu adalah suatu kondisi di mana orang itu butuh banget dengan pencahar. Jadi, ketergantungan akan suatu obat-obatan untuk membantu, apa sih namanya, buang air besar supaya bisa normal. Jadi, penggunaan obat-obat pencahar yang tidak sesuai aturan medis yang jelas,” jelas dr Aru.
Kondisi ini biasanya dimulai dari kecemasan terhadap penampilan fisik, yang kemudian mendorong kebiasaan mengonsumsi obat pelancar secara berlebihan. “Jadi, kadang-kadang orang itu merasa kok badan saya naik gitu ya. Kok gendut gitu ya. Nah, kemudian dia melakukan suatu medikasi sendiri tanpa arahan atau tanpa nasihat dari dokter, minum obat-obatan pencahar itu yang kita sebut namanya weight loss abuse gitu,” terangnya.
Dampak Negatif pada Usus
Efek dari perasaan "enteng" setelah mengonsumsi teh pelangsing sebenarnya hanya disebabkan oleh keluarnya cairan dan kotoran dari usus, bukan karena lemak tubuh yang hilang. Penggunaan obat pencahar herbal atau teh pelangsing yang mengandung antrakuinon (seperti daun sena, aloe vera, atau kaskara) secara terus-menerus dapat menimbulkan efek samping pada usus besar. Bahan-bahan ini dapat merusak sel-sel dinding usus dan memicu pembentukan pigmen lipofuscin, yang menyebabkan perubahan warna pada mukosa usus besar, dikenal sebagai melanosis coli.
“Jadi lipofuscin tersebut menimbulkan gambaran hitam atau kita sebut namanya melanosis coli ya. Jadi hitam gambarnya seperti kulit harimau gitu ya, hitam putih. Nah itu yang menyebabkan gangguan atau komplikasi dari penggunaan obat-obatan pencahar golongan antrakuinon tadi,” ungkapnya. Meskipun corak kehitaman ini umumnya bersifat jinak dan dapat pulih perlahan setelah penghentian obat, bahaya utama dari penyalahgunaan pencahar terletak pada fungsi pergerakan usus itu sendiri.
Masalah terbesar dari laxative abuse adalah usus menjadi terbiasa dan kehilangan kemampuan alaminya untuk berkontraksi. Ketika penggunaan teh pelangsing atau obat pencahar dihentikan, usus akan menjadi "malas", yang berujung pada sembelit parah. “Cuma problemnya adalah kalau penggunaan obat-obatan laxative ini pencahar yang sering ini, yang terjadi adalah orang itu menjadi terlalu terbiasa dengan obat-obatan laxative,” jelasnya.
“Itu akibatnya begitu dihentikan perutnya jadi itu lagi, susah diambil lagi, konstipasi lagi, jadi akhirnya dia memakai lagi seperti itu,” tambahnya. Kondisi ini menciptakan siklus yang sulit diputus: pasien merasa harus terus mengonsumsi pencahar agar bisa BAB secara normal, padahal ususnya semakin rusak akibat ketergantungan tersebut.