🔴 Breaking
Kesehatan

--- Percepatan Pengembangan Vaksin TBC Dalam Negeri Ditegaskan Wamenkes ---

--- Wakil Menteri Kesehatan RI, dr Benjamin Paulus Octavianus, menekankan pentingnya mempercepat pengembangan vaksin Tuberkulosis (TBC) di Indonesia, mengingat tingginya beban kasus TBC di negara ini....

Arjuna Mahendra

Penulis

17 July 2026
17 kali dibaca
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto
---TITLEEXCERPT--- Wakil Menteri Kesehatan RI, dr Benjamin Paulus Octavianus, menekankan pentingnya mempercepat pengembangan vaksin Tuberkulosis (TBC) di Indonesia, mengingat tingginya beban kasus TBC di negara ini. ---CONTENT---

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr Benjamin Paulus Octavianus, mengungkapkan urgensi untuk mempercepat pengembangan vaksin Tuberkulosis (TBC) yang diproduksi di dalam negeri. Hal ini dianggap sangat penting, mengingat Indonesia masih termasuk salah satu negara dengan tingkat kasus TBC tertinggi di dunia.

Menurut dr Benny, sapaan akrabnya, penanganan TBC di Indonesia tidak dapat lagi dilakukan dengan metode konvensional. Diperlukan terobosan besar, salah satunya adalah dengan menciptakan vaksin TBC nasional melalui kerjasama yang solid antara pemerintah, universitas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), industri farmasi, serta lembaga pengawas.

Kerjasama untuk Mengatasi TBC

"Kita harus bekerja secara luar biasa untuk mengatasi TB. Selain pengobatan, penguatan skrining, pelacakan kontak, terapi pencegahan, hingga pengembangan vaksin nasional harus berjalan bersama," tegas dr Benny saat acara Medical Expo FKUI 2026 di Kampus FKUI Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (16/7/2026).

Sejalan dengan pernyataan Wamenkes, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menegaskan komitmennya untuk mendukung sepenuhnya pengembangan produk biologi dan vaksin yang dihasilkan oleh anak bangsa. Ia menyoroti ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor yang masih sangat tinggi.

"Kemandirian obat dan vaksin merupakan bagian dari ketahanan nasional. Karena itu kami mendukung penuh lahirnya inovasi vaksin karya anak bangsa, mulai dari proses pengembangan, uji klinik, hingga percepatan perizinannya," ujar Taruna.

Dukungan untuk Riset Dalam Negeri

BPOM berkomitmen untuk terus mengawal dan mendampingi riset di dalam negeri agar produk yang dihasilkan memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat yang tinggi sebelum dipasarkan kepada masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, pengembangan vaksin dalam negeri sudah mulai menunjukkan hasil melalui peluncuran vaksin tifoid baru bernama Bio-TCV. Vaksin ini merupakan hasil kolaborasi antara FKUI dan PT Bio Farma.

Direktur Utama PT Bio Farma, Shadiq Akasya, menjelaskan bahwa demam tifoid masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia karena sifatnya yang endemis. Meskipun dapat dicegah dengan vaksinasi, perbaikan dalam aspek lainnya, terutama sanitasi, juga sangat diperlukan.

"Kehadiran Bio-TCV mencerminkan kemampuan Indonesia dalam membangun ekosistem pengembangan vaksin dari hulu hingga hilir, mulai dari riset hingga produksi, sehingga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap vaksin dan mendukung penguatan sistem kesehatan nasional," tutup Shadiq.

Artikel Terkait