Jakarta - Fahira Almira, seorang selebgram, tengah ramai diperbincangkan setelah melakukan pengobatan di Penang, Malaysia, terkait masalah pada sistem pencernaannya. Di rumah sakit di Indonesia, ia didiagnosis dengan radang usus buntu, tetapi saat dirawat di rumah sakit Malaysia, diagnosis yang diterimanya berbeda. Kasus ini memicu ketertarikan untuk membahas lebih dalam mengenai usus buntu serta metode pengobatannya. Apakah tindakan operasi merupakan solusi utama, atau ada kemungkinan untuk sembuh tanpa perlu menjalani prosedur bedah?
Pengobatan Usus Buntu: Operasi atau Tidak?
Dokter spesialis penyakit dalam yang juga konsultan gastroenterohepatologi, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH FINASIM dari Mayapada Hospital menjelaskan bahwa usus buntu dapat ditangani dengan cara operasi maupun tanpa operasi. Hal ini sangat bergantung pada kondisi pasien, apakah radang usus buntu yang dialami tergolong akut atau masih dalam tahap ringan.
“Kapan operasi usus buntu wajib dikerjakan (cito), pada kondisi apendisitis akut di mana terdapat tanda-tanda nyeri perut kanan bawah yang khas, mual, dan disertai demam,” ungkap dr Aru saat dihubungi. Ia juga menambahkan bahwa pada kasus radang usus buntu yang tidak parah dan tanpa komplikasi, penundaan untuk melakukan operasi masih diperbolehkan. Beberapa tindakan seperti pemberian antibiotik intravena dapat membantu mengurangi risiko perburukan kondisi.
Risiko Tanpa Operasi
Namun, perlu diingat bahwa usus buntu yang tidak dioperasi memiliki risiko untuk kambuh dalam jangka panjang. Ini disebabkan karena tindakan operasi merupakan standar emas dalam penanganan usus buntu. Dengan demikian, penting bagi pasien untuk mempertimbangkan dengan matang pilihan pengobatan yang akan diambil.
Kasus Fahira Almira ini menunjukkan pentingnya konsultasi yang tepat dan diagnosis yang akurat untuk menentukan langkah pengobatan yang sesuai.