🔴 Breaking
Tingginya Angka Depresi di Indonesia: 90% Pengidap Belum Mendapatkan Perawatan Upaya Al Abidin dalam Memastikan Kualitas Guru Al-Qur'an melalui Sertifikasi Albitah Mendorong Konektivitas Ritel dan UMKM, Aprindo Fokus pada Ekspansi Berkelanjutan Larangan Iklan TikTok di Platform Meta, Termasuk Indonesia Mengelola Gaji Rp 6,5 Juta: Tantangan Menabung di Jakarta Xbox Luncurkan Divisi Hiburan XP, Siapkan Beragam Proyek dari Film hingga Taman Hiburan Amerika Serikat Anjurkan Warganya Hindari Perjalanan ke Rusia Terkait Dugaan Kasus Pes Dosen UIN Saizu Muh. Hanif Meraih Dua Penghargaan Internasional di KAICIE 2026 --- Kenaikan Harga Emas di Pegadaian 10 Oktober 2026: Galeri24, Antam, dan UBS --- BRI Luncurkan Tiga Produk Reksa Dana Baru dengan Investasi Awal Terjangkau Tingginya Angka Depresi di Indonesia: 90% Pengidap Belum Mendapatkan Perawatan Upaya Al Abidin dalam Memastikan Kualitas Guru Al-Qur'an melalui Sertifikasi Albitah Mendorong Konektivitas Ritel dan UMKM, Aprindo Fokus pada Ekspansi Berkelanjutan Larangan Iklan TikTok di Platform Meta, Termasuk Indonesia Mengelola Gaji Rp 6,5 Juta: Tantangan Menabung di Jakarta Xbox Luncurkan Divisi Hiburan XP, Siapkan Beragam Proyek dari Film hingga Taman Hiburan Amerika Serikat Anjurkan Warganya Hindari Perjalanan ke Rusia Terkait Dugaan Kasus Pes Dosen UIN Saizu Muh. Hanif Meraih Dua Penghargaan Internasional di KAICIE 2026 --- Kenaikan Harga Emas di Pegadaian 10 Oktober 2026: Galeri24, Antam, dan UBS --- BRI Luncurkan Tiga Produk Reksa Dana Baru dengan Investasi Awal Terjangkau
Kesehatan

Tingginya Angka Depresi di Indonesia: 90% Pengidap Belum Mendapatkan Perawatan

Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa 9 dari 10 orang yang mengalami depresi di Indonesia tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai. Hal ini menyoroti tantangan dalam penanganan kesehatan...

Fayra Nugroho

Penulis

10 October 2026
4 kali dibaca
Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion
Foto: Getty Images/iStockphoto/Motortion

Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengungkapkan data yang mengkhawatirkan mengenai kondisi kesehatan jiwa di Indonesia. Menurut catatan Kemenkes, 90 persen individu yang mengalami depresi di negara ini belum menerima akses terhadap perawatan atau pengobatan yang diperlukan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa gangguan kesehatan jiwa menduduki peringkat kedua sebagai penyebab utama hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia, berdasarkan informasi dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan bahwa prevalensi depresi di kalangan penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen, yang setara dengan sekitar 2,5 hingga 3 juta orang.

Data Mengkhawatirkan tentang Penanganan Depresi

"Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun," jelas dr Endang dalam pernyataannya yang dirilis pada Sabtu (10/10/2026).

Untuk mengatasi kesenjangan dalam penanganan kesehatan jiwa, Kemenkes berupaya meningkatkan kapasitas fasilitas kesehatan dasar. Saat ini, sebanyak 6.549 puskesmas, yang merupakan 64 persen dari total puskesmas nasional, telah dilengkapi untuk memberikan pelayanan kesehatan jiwa, dengan target menjangkau 100 persen puskesmas dalam dua tahun ke depan.

Deteksi Gejala Depresi dan Praktik Penanganan

Selain itu, skrining kesehatan jiwa yang dilakukan terhadap 71,86 juta jiwa menunjukkan bahwa gejala depresi paling tinggi terdeteksi pada kelompok ibu hamil dan nifas (7,1 persen) serta remaja sekolah (2,3 persen). Namun, masih terdapat praktik penanganan yang tidak manusiawi. Hingga triwulan III 2026, Kemenkes mencatat ada 2.365 orang yang mengalami pemasungan akibat gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.

Menanggapi tantangan ini, Ketua Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi, dan Trauma Psikososial FKUI/RSCM, dr. Hervita Diatri, menekankan pentingnya pemerataan akses terhadap psikoterapi dan rehabilitasi yang terjangkau bagi masyarakat, termasuk di daerah terpencil. "Pengobatan gangguan jiwa bukan sekadar obat, melainkan membutuhkan psikoterapi dan rehabilitasi. Ada kesan seolah layanan ini hanya bisa didapatkan oleh masyarakat mampu di kota besar. Pendekatan deinstitusionalisasi harus diterapkan agar masyarakat mendapat tata laksana adekuat yang dekat dengan lingkungan mereka," tutup dr. Hervita.

Artikel Terkait