Varian COVID-19 yang baru, PQ.16.1.1, telah muncul di berbagai negara. Menurut informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga 8 Juli 2026, terdapat 457 sekuens PQ.16.1.1 yang dilaporkan ke GISAID dari delapan negara, dengan 438 sekuens atau 95,8 persen berasal dari kawasan Pasifik Barat (WPR). Singapura menjadi negara dengan jumlah sekuens terbanyak, mencapai 388 sekuens atau 84,9 persen dari total global.
Negara-Negara yang Melaporkan Varian PQ.16.1.1
Data WHO mencatat beberapa negara dan wilayah yang telah melaporkan sekuens PQ.16.1.1 per 8 Juli 2026, antara lain:
- Singapura: 388 sekuens
- Hong Kong SAR: 34 sekuens
- Australia: 10 sekuens
- Amerika Serikat: 10 sekuens
- Kanada: 8 sekuens
- Korea Selatan: 5 sekuens
- Prancis: 1 sekuens
- Taiwan, China: 1 sekuens
Menariknya, tidak ada sekuens PQ.16.1.1 yang dilaporkan dari kawasan Afrika (AFR) dan Mediterania Timur (EMR).
Peningkatan Proporsi Varian Secara Global
Secara keseluruhan, proporsi PQ.16.1.1 di antara sekuens yang ada telah meningkat dari 2,7 persen pada Epidemiological Week (EW) 18 menjadi 29,6 persen pada EW 25. Di kawasan Pasifik Barat, proporsi varian ini juga mengalami kenaikan dari 5,4 persen menjadi 39,3 persen dalam periode yang sama. Di Amerika, varian PQ.16.1.1 menyumbang 6,4 persen dari sekuens yang tersedia pada EW 25, meskipun angka tersebut hanya berdasarkan pada tiga dari 47 sekuens yang ada.
Di Singapura, proporsi varian ini meningkat dari 12,6 persen pada EW 18 menjadi 55,1 persen pada EW 25. Sementara itu, di Hong Kong SAR, proporsinya naik dari 20 persen menjadi 66,7 persen pada periode yang sama, meskipun data tersebut hanya didasarkan pada empat dari enam sekuens yang dilaporkan pada pekan tersebut.
Meskipun terdapat peningkatan dalam jumlah sekuens, WHO menyatakan bahwa temuan saat ini belum menunjukkan bahwa PQ.16.1.1 menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian COVID-19 lainnya. WHO menambahkan bahwa bukti yang ada saat ini tidak menunjukkan adanya peningkatan keparahan penyakit. "Vaksin yang ada saat ini diperkirakan akan tetap memberikan perlindungan terhadap penyakit parah," ungkap WHO.