🔴 Breaking
Kesehatan

Warga Mengeluh Gejala Influenza A yang Lebih Parah, Kemenkes Berikan Penjelasan

Banyak warga melaporkan bahwa gejala Influenza A yang mereka alami terasa lebih berat dibandingkan flu biasa. Kemenkes menjelaskan bahwa belum ada kesimpulan resmi terkait hal ini.

Sabina Almira

Penulis

29 September 2026
7 kali dibaca
Ilustrasi (Foto: Getty Images/nopparit)
Ilustrasi (Foto: Getty Images/nopparit)

Jakarta - Sejumlah masyarakat mengungkapkan keluhan mengenai gejala Influenza A yang dirasakan lebih parah dibandingkan dengan flu biasa atau selesma yang biasanya mereka alami. Gejala yang dirasakan antara lain badan terasa linu dan demam tinggi. Salah satu pengguna media sosial menuliskan, "Emg rasa linu2 nya luar biasa,, tahun lalu aq jg sakit ini,, kmren jg,, Alhamdulillah udh sembuh," di akun @ely*** pada Threads, Selasa (29/9/2026). Pengguna lainnya juga menambahkan, "Influenza a sejak kamis. Ganas juga ini virus."

Seorang pengguna lain mengungkapkan pengalamannya, "Jujuuuurr bru kli ini gw kena dan seeeelemah ituuu. Demam naik turun yg bikin parah si lemeeessss bgttt buat bngun aja gkuatt, kepala sakit bgtt kaya dipentung, badan kaya digebukiin sendi ngilu2 smua kaya covid rasanya."

Pernyataan Kemenkes Terkait Influenza A

Menanggapi keluhan tersebut, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memberikan kesimpulan mengenai fenomena ini. "Kami tidak dapat menyimpulkan bahwa influenza A saat ini lebih berat hanya karena berdasarkan pengalaman atau keluhan masyarakat. Jadi yang lebih penting adalah melihat data surveilans, termasuk kasus berat, rawat inap, dan kematiannya," jelas Andi dalam konferensi pers daring pada hari yang sama.

Data Epidemiologi Influenza A

Andi juga menambahkan bahwa untuk Influenza A H3N2 Subclade K yang sebelumnya menjadi perhatian, tidak ditemukan adanya peningkatan tingkat keparahan penyakit. "Kementerian kesehatan berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia tidak menemukan peningkatan tingkat keparahan penyakit," tuturnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi kelompok yang berisiko tinggi seperti balita, ibu hamil, orang dengan komorbid, lansia, dan mereka yang memiliki sistem imun yang lemah.

Artikel Terkait