Seorang pekerja di laboratorium yang berfokus pada penelitian penyakit pes di Siberia mengalami sakit dan meninggal dalam keadaan yang belum sepenuhnya terungkap. Insiden ini mendorong pihak berwenang untuk mengarantina sejumlah orang dan mengirimkan kepala badan pengawas kesehatan Rusia ke wilayah Irkutsk. Kematian ini menimbulkan kekhawatiran karena diduga berkaitan dengan wabah 'Black Death' atau pes, di mana pekerja tersebut didiagnosis menderita pneumonia dengan penyebab yang tidak diketahui. Meski demikian, otoritas Rusia menyatakan bahwa situasi masih dalam kendali mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima laporan tentang kematian seorang pekerja laboratorium di Oblast Irkutsk akibat pneumonia berat pada tanggal 1 Oktober 2026. WHO juga menyatakan, "Kami telah menawarkan dukungan kepada Rusia. Namun, penyebab kematian tersebut belum dikonfirmasi secara resmi dan pemeriksaan laboratorium masih berlangsung."
Pelacakan Kontak dan Penanganan Kasus
WHO menambahkan bahwa semua orang yang memiliki kontak dengan pasien telah diidentifikasi dan sedang dipantau untuk gejala penyakit. Hingga saat ini, tidak ada individu yang menunjukkan gejala terkait. Sementara itu, Rospotrebnadzor, badan pengawas kesehatan Rusia, menyampaikan kepada media bahwa institut tempat pekerja tersebut bekerja tidak menemukan bukti adanya kecelakaan dalam penanganan patogen.
Pernyataan tersebut muncul setelah beredar rumor di media sosial mengenai kemungkinan terjatuhnya tabung uji yang berisi bakteri hidup oleh pekerja tersebut. Meskipun demikian, Kepala Rospotrebnadzor, Anna Popova, telah terbang ke Siberia untuk menghadiri pertemuan darurat. Menurut laporan, sekitar 200 orang yang pernah berinteraksi dengan pekerja tersebut telah dikarantina, dan beberapa bagian rumah sakit di Shelekhov, tempat kematiannya, ditutup sementara.
Situasi Terkini dan Respons Pemerintah
Sebuah pabrik aluminium di daerah tersebut juga meminta karyawan untuk mengenakan masker sebagai langkah pencegahan. Rospotrebnadzor melaporkan bahwa dua kasus COVID-19 dan dua kasus rhinovirus ditemukan di antara orang-orang yang memiliki kontak dengan pekerja tersebut, namun tidak ada kasus penyakit menular lainnya yang terdeteksi.
Otoritas meminta masyarakat untuk tetap tenang dan menegaskan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kematian pekerja tersebut berkaitan dengan pekerjaannya. Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, menyatakan bahwa pekerja tersebut meninggal akibat "pneumonia dengan etiologi yang belum diketahui." Ia menekankan bahwa tidak ada kasus baru yang dilaporkan di kalangan staf Institut Antipes yang mencari pertolongan medis dalam beberapa hari terakhir, dan situasi tetap terkendali.