Jakarta - Apakah Anda pernah mendengar suara 'krek' atau 'klik' dari lutut saat bangkit dari duduk, menaiki tangga, atau saat berjongkok? Bunyi ini sering kali membuat seseorang merasa cemas, bahkan dianggap sebagai indikasi awal dari pengeroposan atau pengapuran tulang. Namun, apakah kondisi ini berbahaya?
Dr. Rohit Puri, seorang spesialis ortopedi di Apollo Hospitals Jayanagar, India, menjelaskan bahwa suara yang muncul dari lutut tidak selalu menunjukkan adanya penyakit serius. Dalam banyak kasus, suara tersebut merupakan respons fisiologis yang normal dari tubuh. "Suara yang keluar dari lutut tidak selalu menandakan adanya penyakit atau kelainan. Ada beberapa suara yang dapat terjadi sebagai bagian dari proses fisiologis normal," ungkap dr. Puri.
Penyebab Bunyi 'Krek' pada Lutut
Fenomena yang dikenal sebagai crepitus ini umumnya disebabkan oleh pelepasan gelembung gas nitrogen atau karbon dioksida dalam cairan pelumas sendi. Ketika lutut ditekuk atau diregangkan, gelembung tersebut pecah dan menghasilkan bunyi letupan. Selain itu, pergerakan tendon dan ligamen yang bergeser di atas tulang juga dapat menyebabkan suara serupa.
Dr. Pankaj Walecha, Direktur di Robotic Knee and Minimally Invasive Hip Replacement Sarvodaya Hospital, menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu khawatir selama bunyi tersebut tidak disertai keluhan lain. "Dalam kebanyakan kasus, suara-suara ini sepenuhnya tidak berbahaya, terutama jika tidak disertai rasa nyeri, pembengkakan, atau keterbatasan gerak," jelas dr. Walecha.
Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Meski kebanyakan kasus tergolong aman, kondisi ini tetap harus diperhatikan. Dr. Puri menekankan bahwa bunyi pada lutut bisa menjadi tanda adanya masalah medis jika disertai dengan gejala tertentu. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi:
- Rasa nyeri atau sakit yang tajam.
- Pembengkakan di sekitar sendi.
- Sendi terasa mengunci, sehingga sulit untuk diluruskan.
- Lutut terasa tidak stabil, mudah 'lemas', atau seperti mau 'copot'.
Kondisi tersebut bisa mengindikasikan masalah kesehatan yang lebih serius, seperti osteoarthritis, cedera meniskus, kerusakan ligamen, atau serpihan tulang rawan yang tersangkut di sendi.
Dr. Walecha juga menjelaskan bahwa bunyi tersebut tidak berarti tulang menjadi rapuh. Suara itu murni berasal dari pergerakan jaringan lunak atau cairan sendi, bukan akibat gesekan antar tulang yang mengikis.
Untuk menjaga kesehatan sendi lutut dalam jangka panjang, ia memberikan beberapa tips praktis, seperti menjaga berat badan ideal untuk mengurangi beban pada lutut, menghindari duduk terlalu lama tanpa bergerak, rutin berolahraga dengan aktivitas low-impact seperti berjalan, bersepeda, atau berenang, serta memperkuat otot paha, pinggul, dan core untuk mendukung postur tubuh.
Jika bunyi lutut terus berlanjut dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis ortopedi. Penanganan yang cepat dapat mencegah kerusakan sendi yang lebih parah.