Jakarta - Gaya hidup yang berorientasi pada kenyamanan atau convenience-driven lifestyle diidentifikasi sebagai salah satu penyebab meningkatnya kasus diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal kronis di kalangan generasi muda. Para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik telah menyebabkan penyakit yang sebelumnya umum di usia lanjut kini semakin banyak ditemukan pada individu berusia 20-an, bahkan remaja.
Associate Professor Dr Do Dinh Tung, yang menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Duc Giang di Hanoi, Vietnam, menyatakan bahwa diabetes tidak lagi menjadi masalah yang hanya dialami oleh pasien berusia di atas 40 tahun. "Diabetes semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda. Saat ini penyakit tersebut sering didiagnosis pada usia 20-30 tahun, bahkan remaja," tuturnya.
Perubahan Gaya Hidup yang Menjadi Penyebab Utama
Menurut para ahli, perubahan dalam pola hidup merupakan faktor utama yang menyebabkan peningkatan jumlah kasus diabetes di kalangan usia muda. Konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, serta waktu yang terlalu lama di depan layar berkontribusi pada bertambahnya jumlah anak muda yang mengalami kelebihan berat badan hingga obesitas. Selain itu, pola tidur yang tidak teratur, stres berkepanjangan, dan penggunaan perangkat elektronik secara berlebihan juga dapat mengganggu kesehatan metabolik, yang pada akhirnya meningkatkan risiko diabetes tipe 2 beserta berbagai komplikasinya.
Diabetes dan Risiko Gagal Ginjal
Dr Nguyen Thi Thanh Hai dari Hospital 19-8 Vietnam mengingatkan bahwa sekitar 30 hingga 40 persen pasien diabetes mengalami komplikasi pada ginjal. Diabetes menjadi penyebab utama penyakit gagal ginjal kronis di seluruh dunia. Sayangnya, banyak pasien muda yang menganggap remeh kondisi ini, cenderung hanya memperhatikan kadar gula darah tanpa melakukan pemeriksaan rutin terhadap kesehatan ginjal mereka.
Salah satu kasus yang ditangani melibatkan seorang pria berusia 45 tahun yang telah menderita diabetes selama lebih dari 10 tahun tanpa pemeriksaan rutin. Meskipun merasa sehat, ia mulai mengalami kelelahan dan pembengkakan ringan, sehingga memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan kerusakan ginjal yang parah disertai dengan adanya protein dalam urine. Pria tersebut akhirnya didiagnosis dengan gagal ginjal stadium akhir dan kini harus menjalani cuci darah seumur hidup.
Kerusakan ginjal akibat diabetes umumnya berkembang secara perlahan dan seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Ketika gejala seperti pembengkakan, urine berbusa, frekuensi buang air kecil yang meningkat di malam hari, atau kelelahan mulai muncul, fungsi ginjal biasanya sudah mengalami penurunan yang signifikan. Oleh karena itu, banyak pasien baru menyadari kondisi ginjal mereka setelah kerusakan sudah cukup parah.
Para ahli menekankan pentingnya deteksi dini untuk mempertahankan fungsi ginjal. Pengidap diabetes disarankan untuk menjalani pemeriksaan fungsi ginjal setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun, yang mencakup tes urine untuk memeriksa kadar albumin, serta tes darah seperti kreatinin dan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR). Selain pemeriksaan rutin, pasien juga dianjurkan untuk menjaga kadar gula darah tetap terkendali, mengontrol tekanan darah dan kolesterol, mengurangi konsumsi garam, serta menghindari penggunaan obat-obatan tanpa anjuran dokter, terutama obat pereda nyeri yang digunakan dalam jangka panjang.
"Deteksi dini berarti masih ada kesempatan untuk melindungi fungsi ginjal," tegas Dr Hai. Para pakar mengingatkan bahwa tanpa adanya perubahan gaya hidup dan peningkatan kesadaran masyarakat, semakin banyak anak muda yang berisiko mengalami komplikasi permanen akibat diabetes dan harus menjalani pengobatan seumur hidup.