Guncangan gempa bumi dengan magnitudo 7,7 melanda Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakibatkan kerusakan signifikan pada berbagai fasilitas kesehatan. Untuk mengatasi masalah layanan medis darurat yang terhambat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) bersama tim gabungan telah mengerahkan dua rumah sakit lapangan ke area yang terdampak.
Kedua rumah sakit lapangan tersebut telah ditempatkan di lokasi strategis, yaitu Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Nagekeo. Tindakan ini diambil untuk memastikan bahwa pelayanan kesehatan bagi para korban gempa dan masyarakat setempat tetap dapat dilaksanakan, meskipun banyak rumah sakit dan puskesmas mengalami kerusakan.
Operasional Rumah Sakit Lapangan
"Pos komando akan mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk memberikan pelayanan kepada korban gempa maupun masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Operasional rumah sakit lapangan ini didukung oleh Emergency Medical Team (EMT) dari Kemenkes. Selain itu, Pusat Krisis Kemenkes juga telah mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) di tingkat pusat hingga kabupaten/kota untuk mempercepat koordinasi dalam penanganan medis.
Dukungan Obat dan Tim Medis
Untuk mendukung kegiatan rumah sakit lapangan, Kemenkes juga mengirimkan dua tim manajemen krisis kesehatan ke Kabupaten Sikka dan Ende. Tim medis lapangan telah dikerahkan untuk menjangkau wilayah-wilayah lain yang terkena dampak, termasuk Manggarai Barat.
Selain tenaga medis, pasokan logistik kesehatan juga terus dikirimkan ke daerah bencana dengan dukungan dari TNI dan Polri. "Dukungan kesehatan diperkuat dengan pengiriman obat-obatan, bahan medis habis pakai, emergency kit, tenda pos kesehatan, konsentrator oksigen, dan perlengkapan medis lainnya," tambahnya.
Pentingnya penanganan krisis kesehatan ini semakin mendesak mengingat BMKG masih mencatat adanya ribuan gempa susulan yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Hingga hari ketiga setelah gempa, lebih dari 60 korban jiwa telah dilaporkan. Sementara itu, verifikasi dampak kerusakan pada fasilitas publik dan pemukiman masih terus dilakukan oleh BPBD setempat.