Jakarta - Kemajuan dalam teknologi medis telah membawa dampak signifikan pada layanan urologi dan uronefrologi di Indonesia. Berbagai prosedur yang sebelumnya dilakukan dengan metode operasi terbuka kini dapat dilaksanakan dengan bantuan teknologi robotik.
Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K), seorang dokter spesialis urologi, menyatakan bahwa kualitas pelayanan urologi di Indonesia saat ini telah setara dengan standar internasional. Teknologi robotik telah diterapkan dalam berbagai tindakan, termasuk operasi tumor ginjal, kanker prostat, serta kelainan pada saluran kemih. "Kalau kita bicara penyakit di bidang urologi bisa tumor ginjal, bisa kanker prostat, bisa kelainan bawaan dari anak masih kecil, dan kalau di Indonesia sekarang pelayanannya sebenarnya kualitasnya sudah sama dengan internasional," ungkap Prof Nur saat berbicara di acara The 6th Siloam Urology Nephrology Summit 2026 di Shangri-La, Jakarta Pusat, pada Sabtu (8/8/2026).
Perubahan Signifikan dalam Prosedur Medis
Kehadiran teknologi robotik memungkinkan dokter untuk melakukan berbagai prosedur urologi dengan sayatan yang lebih kecil. Di Siloam Hospitals Asri, teknologi ini telah digunakan untuk melakukan pengangkatan ginjal secara keseluruhan atau radical nephrectomy, pengangkatan sebagian tumor ginjal, serta operasi pengangkatan prostat. Selain itu, teknologi robotik juga dapat digunakan untuk mengatasi penyempitan saluran kemih, di mana bagian yang menyempit dapat diangkat dan disambungkan kembali dengan jaringan mukosa mulut.
Prof Nur menjelaskan bahwa penggunaan robot dalam operasi mengurangi kebutuhan untuk membuka perut secara luas seperti pada metode operasi terbuka. Instrumen robotik dimasukkan melalui beberapa lubang kecil, sementara dokter mengendalikan robot dari luar tubuh pasien. "Kalau kita pakai robot, dibuka lubang kecil 1 cm, 3 sampai 4 cm, tangan kita di luar. Luka yang kecil itulah yang menyebabkan penyembuhan lebih baik bagi pasien dan kualitas hidup setelah operasi lebih baik," jelasnya.
Keuntungan ini juga terlihat dalam transplantasi ginjal yang dilakukan dengan bantuan robot. Menurut Prof Nur, sayatan yang lebih kecil dapat mengurangi risiko perdarahan dan komplikasi, memperpendek masa perawatan, serta memberikan hasil yang lebih baik dari segi nyeri dan kosmetik. Kualitas fungsi ginjal yang diperoleh juga setara dengan hasil dari operasi terbuka.
Indonesia Memimpin dalam Transplantasi Ginjal Robotik di ASEAN
Dalam konteks uronefrologi, salah satu tantangan besar adalah gangguan fungsi ginjal. Pasien yang mengalami gagal ginjal dapat menjalani terapi pengganti seperti hemodialisis atau dialisis peritoneal, sementara transplantasi ginjal menjadi pilihan untuk menggantikan fungsi ginjal yang gagal. Di Rumah Sakit Siloam Hospitals Asri, telah dilakukan 543 kasus transplantasi ginjal, menjadikannya salah satu pusat transplantasi ginjal dengan volume tinggi di Indonesia. "Paling banyak tentu di RSCM. Tapi jumlah transplant di atas 50, di Asri itu antara 50-100 lebih setahun, itu angka yang dianggap high volume center of kidney transplant," kata Prof Nur.
Menurutnya, status sebagai pusat volume tinggi sangat penting karena transplantasi ginjal memerlukan tim yang terlatih dan berpengalaman, termasuk dokter anestesi, perawat, dan tim yang memantau pasien pasca operasi. Setelah memiliki pengalaman dalam transplantasi ginjal dengan volume tinggi, layanan ini kini memasuki fase baru dengan penerapan teknologi robotik. Prof Nur menyebut bahwa Indonesia telah lebih dahulu menerapkan robotic assisted kidney transplant dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapura dan Malaysia. "Kalau kita bicara robotic assisted kidney transplant, kita duluan. Sampai hari ini di Singapura, di Malaysia belum melakukan robotic assisted kidney transplant," ujarnya.
Namun, Prof Nur menekankan bahwa penerapan teknologi robotik dalam transplantasi ginjal harus dilakukan dengan hati-hati. Ada tahapan yang harus dilalui oleh pusat layanan sebelum dapat melakukan prosedur tersebut, yang mengacu pada European Robotic Urology Section (ERUS) dan prinsip Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). Salah satu syaratnya adalah pusat transplantasi harus memiliki volume tindakan yang tinggi dan kerja tim yang solid. "Jadi jelas pathway-nya tadi berdasarkan European Robotic Urology Section, ERUS, ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk sebuah center yang high volume," jelasnya.
Dengan pengalaman melakukan sekitar 70 hingga 100 kasus transplantasi per tahun, sebuah pusat layanan dianggap telah memiliki pengalaman dan kerja tim yang diperlukan untuk mulai melakukan transplantasi ginjal dengan bantuan robot. Oleh karena itu, teknologi ini tidak ideal diterapkan di pusat yang baru memulai layanan transplantasi ginjal.
Penggunaan robot dalam transplantasi ginjal masih merupakan perkembangan baru di dunia. Prof Nur menyebut bahwa Eropa telah melihat potensi dari teknologi ini sejak 2016 dan terus berkembang hingga saat ini.
Tantangan dalam Akses Layanan Robotik
Meskipun kemajuan teknologi ini menjanjikan, masih ada tantangan dalam hal pemerataan akses. Prof Nur menyatakan bahwa saat ini layanan robotik hanya tersedia di Jakarta. "Di Indonesia sekarang baru hanya ada di Jakarta. Jadi kalau untuk masyarakat memang harus datang ke Jakarta kalau ingin mendapatkan layanan robot," ujarnya.
Oleh karena itu, transformasi layanan uronefrologi tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan tenaga ahli, pengalaman pusat layanan, kerja tim, serta ketersediaan fasilitas yang diperlukan agar teknologi ini dapat memberikan manfaat maksimal bagi pasien. Perkembangan transplantasi ginjal dengan bantuan robot merupakan salah satu contoh bahwa layanan uronefrologi di Indonesia terus memasuki era baru. Bagi Prof Nur, teknologi ini dapat membantu dokter bekerja lebih efisien dan memberikan pengalaman pemulihan yang lebih baik bagi pasien.