🔴 Breaking
Ekonomi

KAI Siap Implementasikan Penggunaan BBM B50 pada Lokomotif

PT Kereta Api Indonesia (KAI) memastikan semua lokomotif bertenaga diesel siap menggunakan BBM jenis B50, seiring dengan mandatori pemerintah yang berlaku mulai 1 Juli 2026.

Chandra Kirana

Penulis

02 July 2026
35 kali dibaca
Penggunaan bahan bakar nabati pada operasional KAI tercatat dari B0 pada 2017, meningkat menjadi B20 pada 2018–2019, B30 pada 2020–2022, B35 pada 2023–2024, B40 pada 2025–2026, dan berlanjut menuju B50 pada 2026. (Dok. KAI)
Penggunaan bahan bakar nabati pada operasional KAI tercatat dari B0 pada 2017, meningkat menjadi B20 pada 2018–2019, B30 pada 2020–2022, B35 pada 2023–2024, B40 pada 2025–2026, dan berlanjut menuju B50 pada 2026. (Dok. KAI)

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengonfirmasi bahwa semua sarana kereta api yang menggunakan tenaga diesel akan siap beroperasi dengan bahan bakar minyak (BBM) B50. Keputusan ini diambil menyusul adanya kebijakan pemerintah yang mewajibkan penggunaan B50 mulai 1 Juli 2026.

Anne Purba, VP Corporate Communication KAI, mengungkapkan bahwa perusahaan telah melakukan berbagai persiapan melalui serangkaian uji coba pada lokomotif dan generator yang digunakan dalam operasional kereta api. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga menyatakan bahwa penerapan B50 akan dilakukan secara bertahap selama tiga bulan untuk memberikan waktu penyesuaian di lapangan, termasuk pengelolaan stok bahan bakar yang ada.

Persiapan dan Uji Coba Lokomotif

“KAI mendukung mandatori biodiesel B50 yang diberlakukan pemerintah mulai 1 Juli 2026. Dari sisi sarana, seluruh lokomotif dan sarana diesel KAI telah siap menerapkan B50 setelah melalui uji terap teknis serta penguatan aspek keselamatan operasional,” jelas Anne dalam keterangan resminya.

Uji coba penerapan B50 telah dimulai pada lokomotif dan generator, dengan fokus pada pengamatan respons mesin saat menggunakan bahan bakar baru ini dalam pola operasi kereta. Pemantauan dilakukan secara ketat terhadap performa mesin, stabilitas pembakaran, konsumsi bahan bakar, serta kondisi komponen utama untuk memastikan keandalan sarana saat melayani penumpang.

Kesiapan dan Kontribusi terhadap Energi Terbarukan

Pengujian juga dilakukan pada kereta pembangkit, dengan pemeriksaan performa genset, konsumsi bahan bakar, emisi, kondisi filter, serta ketahanan operasional. Proses ini sangat penting karena kereta pembangkit memiliki peran krusial dalam menjaga pasokan listrik untuk kenyamanan penumpang selama perjalanan.

“Penggunaan B50 pada sarana perkeretaapian membutuhkan kesiapan teknis yang terukur. Karena itu, KAI melakukan pengujian, pemantauan, dan evaluasi agar penerapannya tetap selaras dengan standar keselamatan operasi kereta api,” tambah Anne.

Dari perspektif keberlanjutan, penerapan B50 ini juga memperkuat kontribusi KAI dalam mendukung transisi energi nasional. Dengan meningkatkan penggunaan biodiesel, diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada solar fosil dan menekan emisi di sektor transportasi. Sebelumnya, KAI telah secara bertahap menggunakan biodiesel dalam operasional sarana dieselnya, mulai dari B35 hingga B40, yang menjadi modal penting dalam mempersiapkan tahapan B50 dengan pendekatan yang aman dan terukur.

“KAI siap menjalankan penggunaan B50 sesuai arahan pemerintah. Seluruh sarana diesel telah kami siapkan, sehingga transisi energi ini dapat berjalan dengan tetap menjaga keselamatan perjalanan, keandalan operasi, dan kualitas layanan kepada masyarakat,” tutup Anne.

Kementerian ESDM menargetkan sektor perkeretaapian sebagai salah satu yang harus menggunakan biodiesel B50, mengingat kereta api merupakan salah satu moda transportasi umum massal yang banyak digunakan masyarakat. Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, menegaskan bahwa penerapan B50 harus dilakukan secara menyeluruh di semua moda transportasi.

Pengujian B50 juga diterapkan pada generator yang menyuplai daya di rangkaian kereta serta lokomotif penggeraknya. Kebijakan ini berlaku untuk semua jenis angkutan kereta, baik yang berbasis subsidi maupun non-subsidi. Uji coba ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan pegawai yang terlibat dalam pengelolaan teknis kereta, termasuk dalam proses pengisian bahan bakar.

Kementerian ESDM berencana merilis buku panduan resmi mengenai penanganan dan penggunaan B50 di moda transportasi setelah seluruh rangkaian uji coba selesai. “Buku ini akan mencakup informasi tentang distribusi dan penyimpanan B50, serta panduan lainnya yang diperlukan,” jelas Eniya.

Artikel Terkait