🔴 Breaking
Kesehatan

Studi Mengungkap Pekerja Bergaji Rendah Memiliki Risiko Kematian yang Lebih Tinggi

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pekerja paruh baya dengan upah rendah di Amerika Serikat mengalami peningkatan risiko kematian yang signifikan dibandingkan rekan-rekan mereka yang memperol...

Arjuna Mahendra

Penulis

19 August 2026
6 kali dibaca
Foto: Getty Images/Natee Meepian
Foto: Getty Images/Natee Meepian

Jakarta - Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis JAMA pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa pekerja yang memiliki riwayat menerima upah rendah berisiko lebih tinggi mengalami kematian pada usia paruh baya di Amerika Serikat. Pekerja paruh baya yang secara konsisten mendapatkan upah rendah memiliki kemungkinan meninggal 38 persen lebih tinggi dalam periode 12 tahun dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan upah lebih tinggi. Penelitian ini melibatkan sekitar 4.000 pekerja yang berusia minimal 50 tahun pada awal studi dan diikuti selama 12 tahun.

Risiko Kesehatan di Tempat Kerja

Katrina Kezios dari Columbia University, salah satu penulis studi, menyatakan bahwa "pekerja berupah rendah lebih mungkin bekerja di posisi yang memberikan sedikit atau bahkan tidak ada tunjangan kesehatan dan finansial," dan mereka juga menghadapi risiko lebih besar terkait keselamatan di tempat kerja. Kezios menambahkan bahwa masalah upah rendah semakin diakui sebagai isu kesehatan masyarakat, dan ada berbagai kebijakan yang dapat memengaruhi upah per jam, termasuk regulasi mengenai upah minimum.

Pentingnya Kebijakan Upah

Kezios menjelaskan bahwa meskipun penelitian ini tidak secara langsung menganalisis kebijakan upah minimum, para peneliti ingin menunjukkan dampak negatif kumulatif yang mungkin timbul akibat menerima upah rendah sepanjang hidup seorang pekerja. Temuan ini menekankan perlunya mempertimbangkan perubahan kebijakan yang dapat meningkatkan upah, yang pada gilirannya dapat memperbaiki kondisi kesehatan masyarakat.

Dalam penelitian ini, pekerjaan berupah rendah didefinisikan sebagai pekerjaan dengan penghasilan di bawah upah per jam yang setara dengan garis kemiskinan federal AS untuk keluarga dengan empat anggota, yang pada saat itu mencapai US$30.000 per tahun atau sekitar Rp535 juta, atau US$14,42 per jam untuk pekerjaan penuh waktu sepanjang tahun. Para peneliti menemukan bahwa pekerja yang terjebak dalam pekerjaan berupah rendah cenderung berasal dari kelompok kulit hitam atau Hispanik, lebih banyak perempuan, serta memiliki tingkat pendidikan di bawah 12 tahun.

Walaupun penelitian ini tidak mengkaji risiko kematian berdasarkan negara bagian, pekerja yang memiliki risiko kematian tertinggi umumnya lahir di wilayah Selatan AS. Di AS, terdapat variasi yang signifikan dalam aturan upah minimum antar negara bagian, dengan upah minimum yang biasanya lebih rendah di wilayah Selatan dan Barat.

Kezios menambahkan bahwa hubungan antara upah rendah dan peningkatan risiko kematian pada usia paruh baya mungkin terjadi melalui berbagai mekanisme. Namun, ia menegaskan bahwa penelitian ini belum menguji jalur atau mekanisme spesifik yang menghubungkan upah rendah yang berkelanjutan dengan risiko kematian, yang menjadi salah satu aspek penting untuk diteliti lebih lanjut.

Artikel Terkait