🔴 Breaking
Kesehatan

Olahraga Rutin: Mitos atau Fakta dalam Mencegah Aritmia Jantung?

Olahraga teratur dikenal baik untuk kesehatan jantung, namun pertanyaannya, apakah aktivitas ini sepenuhnya menghilangkan risiko aritmia? Seorang ahli menjelaskan bahwa meski olahraga bermanfaat, risi...

Sekar Wangi

Penulis

18 August 2026
6 kali dibaca
Foto: Ilustrasi olahraga (Getty Images/AsiaVision)
Foto: Ilustrasi olahraga (Getty Images/AsiaVision)

Jakarta - Melakukan olahraga secara teratur merupakan salah satu kebiasaan positif untuk menjaga kesehatan jantung. Namun, muncul pertanyaan apakah dengan berolahraga secara rutin seseorang dapat sepenuhnya terhindar dari risiko aritmia atau gangguan irama jantung. Dr. Simon Salim, spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular dari Brawijaya Hospital, menyatakan bahwa keyakinan bahwa olahraga dapat menghilangkan risiko aritmia adalah sebuah mitos. Ia menjelaskan bahwa meskipun olahraga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit, termasuk aritmia, risiko tersebut tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, terutama bagi mereka yang memiliki faktor genetik atau riwayat aritmia.

Pentingnya Aktivitas Fisik untuk Kesehatan Jantung

“Olahraga memang dianjurkan, tapi olahraga tidak menghilangkan semua risiko,” ungkap dr. Simon pada hari Jumat (14/8/2026) dalam program detikSore. Meskipun olahraga tidak dapat menghapus risiko aritmia sepenuhnya, aktivitas fisik tetap sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan. “Jadi aktivitas justru kita minta, justru harus olahraga teratur supaya menjaga secara keseluruhan,” tambahnya.

Intensitas Olahraga yang Disarankan

Dalam upaya menjaga kesehatan jantung, olahraga dengan intensitas rendah hingga sedang menjadi pilihan yang tepat. “Untuk kesehatan jantung pada umumnya memang kita menyarankan untuk low to moderate impact, low to moderate intensity,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa low to moderate intensity berarti saat berolahraga, seseorang masih dapat berbicara dengan lancar. Jika percakapan terputus-putus saat berolahraga, itu menandakan bahwa intensitas sudah masuk ke kategori tinggi.

Dr. Simon menambahkan bahwa bagi mereka yang sudah terbiasa berolahraga, intensitas tinggi masih diperbolehkan dan tetap bermanfaat bagi kesehatan. Namun, bagi individu dengan riwayat penyakit jantung, intensitas sedang sudah cukup, yaitu saat berolahraga mereka tidak bisa bernyanyi. “Kalau misalnya memang moderate intensity pun nggak bisa, ya terpaksa dia hanya low intensity,” ujarnya.

“Tapi tetap harus berolahraga. Jadi lakukanlah olahraga yang masih bisa dikerjakan tanpa ada sampai sesek, sampai ngerasanya di dada atau apa segala macam, apa yang bisa diolahragakan tentu lebih baik,” tutup dr. Simon.

Artikel Terkait