Kalimantan Tengah mengalami peningkatan signifikan dalam kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sebanyak 66.679 kasus ISPA yang terjadi di wilayah tersebut.
Data terbaru yang dirilis pada Kamis (20/8) menunjukkan terdapat 2.892 titik hotspot di seluruh Provinsi Kalimantan Tengah, dengan 67 insiden kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan luas area yang terbakar mencapai 268,07 hektare. Penanganan situasi ini terus dilakukan dengan melibatkan 10.700 personel gabungan, serta dukungan dari 5 unit helikopter dan 1 unit pesawat OMC.
Gejala ISPA dan Dampak Kualitas Udara
ISPA mencakup berbagai infeksi yang menyerang saluran pernapasan, baik bagian atas maupun bawah, seperti hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, dan paru-paru. Infeksi ini dapat disebabkan oleh berbagai agen, termasuk virus, bakteri, dan jamur. Penurunan kualitas udara juga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus ISPA. Pada Rabu (19/8), kualitas udara di Palangka Raya tercatat sangat buruk dengan skor 487 berdasarkan Indeks Kualitas Udara (AQI).
Beberapa gejala yang mungkin muncul akibat ISPA antara lain batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta kelelahan. Gejala lainnya termasuk suara serak, pilek, mual, muntah, dan penurunan nafsu makan.
Upaya Penanganan dan Kesadaran Masyarakat
BPBD Kalimantan Tengah terus berupaya menangani situasi ini dengan maksimal, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran hutan dan dampaknya terhadap kesehatan. Diharapkan, dengan adanya langkah-langkah preventif dan penanganan yang tepat, jumlah kasus ISPA dapat ditekan dan kualitas udara dapat kembali membaik.