🔴 Breaking
Studi Mengungkap Bahaya Konsumsi Makanan Olahan Terkait Risiko Kematian Kesempatan Berkarir di Paramount Land, Dibutuhkan Lulusan S1 dari Berbagai Jurusan Harga Berlian Alam Terjun Bebas, Turun Hingga 51% dalam Lima Tahun Keceriaan Hari Pertama Acara #TanggalMerahUntukIbu di Bandung Donasi Besar Phil Knight untuk University of Oregon di Tengah Pemangkasan Anggaran Pendidikan oleh Trump Waktu untuk Diri Sendiri: Pentingnya Me Time bagi Ibu Jumlah Pekerja Terkena PHK Mencapai 53.490 di 2026, Ini Provinsi dengan Angka Tertinggi Tanda-Tanda Seseorang dengan Kecerdasan Rendah yang Perlu Diketahui Pengalaman Belajar Berpikir Logis Siswa TKII Al Abidin di Kebun Melon Penutupan Jalan Padang-Solok Akibat Banjir Bandang, Jembatan Bailey Siap Diterjunkan Studi Mengungkap Bahaya Konsumsi Makanan Olahan Terkait Risiko Kematian Kesempatan Berkarir di Paramount Land, Dibutuhkan Lulusan S1 dari Berbagai Jurusan Harga Berlian Alam Terjun Bebas, Turun Hingga 51% dalam Lima Tahun Keceriaan Hari Pertama Acara #TanggalMerahUntukIbu di Bandung Donasi Besar Phil Knight untuk University of Oregon di Tengah Pemangkasan Anggaran Pendidikan oleh Trump Waktu untuk Diri Sendiri: Pentingnya Me Time bagi Ibu Jumlah Pekerja Terkena PHK Mencapai 53.490 di 2026, Ini Provinsi dengan Angka Tertinggi Tanda-Tanda Seseorang dengan Kecerdasan Rendah yang Perlu Diketahui Pengalaman Belajar Berpikir Logis Siswa TKII Al Abidin di Kebun Melon Penutupan Jalan Padang-Solok Akibat Banjir Bandang, Jembatan Bailey Siap Diterjunkan
Kesehatan

Kecelakaan Diagnosis: Pria Ini Terkejut Didiagnosis Kanker Stadium 4 Setelah Konsultasi dengan AI

Seorang pria asal Irlandia terkejut setelah mengetahui bahwa ia mengidap kanker adenokarsinoma esofagus stadium 4, setelah berkonsultasi mengenai sakit tenggorokan melalui ChatGPT.

Aditya Surya

Penulis

08 August 2026
57 kali dibaca
Ilustrasi pemanfaatan AI. Foto: Getty Images/alexsl
Ilustrasi pemanfaatan AI. Foto: Getty Images/alexsl

Jakarta - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari informasi kesehatan semakin umum, namun sebaiknya tidak dijadikan sebagai sumber utama. Hal ini dibuktikan oleh seorang pria dari Irlandia yang mengalami kesalahan diagnosis setelah berkonsultasi dengan ChatGPT mengenai sakit tenggorokannya.

Konsultasi Sakit Tenggorokan ke ChatGPT

Warren Tierney, pria yang bersangkutan, mengalami kesulitan menelan cairan pada awal tahun 2025. Alih-alih pergi ke dokter, ia memutuskan untuk mencari jawaban melalui ChatGPT. Saat menjelaskan gejalanya, AI tersebut menegaskan bahwa sangat tidak mungkin ia menderita kanker. "Kanker? Sangat tidak mungkin. Tidak ada gejala yang mengkhawatirkan, stabil, dan membaik," ungkap ChatGPT.

Diagnosis Kanker Adenokarsinoma Esofagus Stadium 4

Meski tidak memeriksakan diri ke dokter, gejala yang terus berlanjut membuat Warren akhirnya dibawa oleh Evelyn, keluarganya, ke UGD pada Agustus 2025. Di sanalah ia didiagnosis menderita kanker adenokarsinoma esofagus stadium 4, jenis kanker yang sering kali terdeteksi pada tahap lanjut dan memiliki tingkat harapan hidup rata-rata hanya lima tahun.

Menanggapi kasus ini, ChatGPT menyatakan bahwa platformnya tidak dimaksudkan untuk digunakan dalam pengobatan dan bukan pengganti nasihat medis profesional. Warren pun menyadari bahwa ketergantungannya pada AI mungkin telah menunda diagnosis yang tepat. "Pada akhirnya ini benar-benar menjadi masalah, karena ChatGPT mungkin menunda saya mendapatkan perhatian serius," ujarnya. Ia menambahkan, "Saya adalah contoh nyatanya sekarang dan saya dalam masalah besar karena mungkin saya terlalu bergantung padanya."

Pentingnya Berhati-hati dalam Menggunakan AI untuk Kesehatan

Setelah menjalani pengobatan yang intensif, Warren melaporkan bahwa hasil PET Scan menunjukkan ia dalam kondisi remisi total. Namun, pengalaman pahit ini menjadi pengingat bagi banyak orang untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan AI sebagai sumber informasi kesehatan. Kecerdasan buatan seharusnya hanya digunakan sebagai pendukung, bukan sebagai dasar utama dalam pengambilan keputusan kesehatan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 1 Desember 2025 menunjukkan bahwa AI tidak dapat mendeteksi hampir sepertiga kasus kanker payudara. Penelitian ini melibatkan 414 wanita yang baru didiagnosis kanker payudara, dan hasilnya menunjukkan bahwa 30,7 persen kasus tidak terdeteksi oleh sistem diagnosis berbasis AI. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa beberapa respons dari chatbot dapat berpotensi membahayakan nyawa pasien.

Oleh karena itu, jika mengalami gejala kesehatan yang tidak kunjung membaik, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis yang terpercaya.

Artikel Terkait