Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana untuk melelang 10 blok minyak dan gas bumi (migas) baru dalam acara Asosiasi Petroleum Indonesia Convention and Exhibition (IPA Convex) yang akan berlangsung pada tahun 2026. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menyatakan bahwa blok-blok migas tersebut terletak di berbagai daerah yang memiliki potensi tinggi di Indonesia, termasuk Sulawesi, Kalimantan, Papua, dan Sumatera.
“Ya, sekitar 10 (blok migas). Ada yang di wilayah Sulawesi, wilayah Kalimantan, wilayah Papua, ada yang di Sumatera,” ungkap Laode saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).
Pengumuman Resmi Lelang
Laode menambahkan bahwa pengumuman resmi mengenai lelang tersebut akan dilakukan pada saat IPA Annual Conference yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. “Nanti kami akan mengumumkan pada saat IPA sebentar lagi. Minggu depan kan IPA annual conference. Kami nanti akan umumkan di sana,” jelasnya.
Sebelumnya, pada bulan Februari 2026, Kementerian ESDM telah mengumumkan bahwa terdapat 10 area potensi migas baru yang telah selesai menjalani studi mendalam. Wilayah-wilayah ini merupakan bagian dari 110 area potensi migas yang telah dipetakan oleh pemerintah hingga awal tahun 2026. Studi tersebut dilakukan oleh Badan Geologi dan LEMIGAS untuk memastikan kualitas data dan potensi cadangan energi yang lebih akurat.
Adapun 10 wilayah migas yang siap ditawarkan mencakup Rupat, Puri, Karapan Baru, Pesut Mahakam, Bengara II, Maratua II, South Matindok, Lao-Lao, Rombebai, dan Northern Papua/Jayapura.
Insentif Fiskal untuk Investor
Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan daya tarik investasi di sektor hulu migas dengan menawarkan berbagai kebijakan fiskal yang lebih fleksibel. Salah satu kebijakan yang ditawarkan adalah pembagian split kontrak kerja sama kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) hingga 50%, yang jauh lebih tinggi dibandingkan skema sebelumnya yang berkisar antara 15% hingga 30%.
Selain itu, pemerintah memberikan keleluasaan kepada investor untuk memilih skema kontrak migas sesuai dengan kebutuhan proyek, baik menggunakan sistem cost recovery maupun gross split. Pemerintah juga menawarkan sejumlah insentif tambahan untuk mendorong optimalisasi produksi migas nasional, termasuk pembebasan pajak tidak langsung pada masa eksplorasi serta berbagai kemudahan lainnya untuk mempercepat pengembangan proyek.
Langkah-langkah ini diambil untuk menjaga minat investor global di tengah persaingan investasi energi yang semakin ketat. Kementerian ESDM berharap kombinasi insentif fiskal dan fleksibilitas kontrak dapat mempercepat eksplorasi migas baru dan meningkatkan produksi energi nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, juga memberikan informasi terkini mengenai pengelolaan Blok Tuna. Menurut Bahlil, proyek tersebut akan segera memasuki tahap rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (EPC). Ia menargetkan bahwa produksi dari Blok Tuna dapat dimulai pada tahun 2028 atau paling lambat 2029.
“Dari Harbour Inggris, itu sudah melepas sebagian sahamnya untuk ke perusahaan nasional. Saya pikir itu sebentar lagi udah EPC sudah jalan. Kami targetkan untuk bisa melakukan percepatan produksinya di 2028, paling lambat 2029,” ujar Bahlil.
Blok Tuna diharapkan menjadi salah satu proyek strategis migas yang dapat mendukung ketahanan energi nasional di masa depan. Pemerintah optimis bahwa percepatan pengembangan blok migas baru, termasuk Blok Tuna, akan mampu meningkatkan produksi migas domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi. Melalui berbagai lelang blok migas dan kebijakan insentif baru, pemerintah berharap investasi di sektor hulu migas dapat tumbuh kembali dan menjadi pendorong utama bagi penguatan ekonomi nasional.