Jakarta - Meninggalnya seorang dokter yang terlibat dalam Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) kembali menjadi perhatian publik setelah terungkap dugaan bunuh diri di Kalibata, Jakarta Selatan. Kejadian ini memunculkan pertanyaan mengenai apakah program internship akan dihentikan sementara.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa hingga saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak memiliki rencana untuk menghentikan program tersebut. Ia menekankan bahwa langkah yang paling mendesak adalah memperkuat skrining kesehatan jiwa untuk semua peserta. "Saya rasa cara yang paling benar adalah kita beresin skrining dulu, untuk memastikan bahwa ini tidak akan ada lagi hal-hal yang potensi bisa terjadi," ungkap Menkes.
Peningkatan Skrining Kesehatan Jiwa
Budi menjelaskan bahwa Kemenkes sedang berusaha memastikan semua peserta Program Internship Dokter Indonesia dan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) menjalani skrining kesehatan jiwa ulang. Hal ini bertujuan agar peserta yang menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental atau berisiko bunuh diri bisa segera mendapatkan pendampingan dan penanganan yang diperlukan.
Ia juga mengungkapkan rasa sedihnya atas kejadian meninggalnya dokter internship tersebut. Penyebab pasti dari dugaan bunuh diri ini masih dalam penyelidikan, termasuk kemungkinan adanya masalah kesehatan jiwa. "Tapi yang jelas saya sudah minta semua diskrining jiwa sekali lagi, supaya internship, PPDS dengan indikasi bunuh diri ini seharusnya kan bisa ditangani," tambah Budi.
Deteksi Dini untuk Mencegah Kasus Serupa
Menurutnya, deteksi dini melalui skrining adalah langkah tercepat yang dapat diambil pemerintah untuk mencegah terulangnya kasus serupa. "Jadi kalau ada indikasi-indikasi, kita bisa ambil tindakan. Ini cara yang paling cepat yang bisa kami lakukan. Terus terang kami sedih sekali," tutupnya.
Asosiasi PIDI-PIDGI juga menyampaikan rasa duka cita atas meninggalnya dr Siti Zahra Maghfira. Mereka menekankan bahwa kehilangan dokter muda dalam waktu dekat ini mendorong perlunya perbaikan menyeluruh untuk melindungi tenaga kesehatan. "Ini bukan pertama kalinya kami mengucapkan bela sungkawa untuk sejawat yang berpulang. Kehilangan demi kehilangan terjadi dalam waktu yang berdekatan, sementara keadaan ini tidak seharusnya terjadi," tulis asosiasi tersebut dalam pernyataan resmi di media sosial.
Asosiasi juga meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi mengenai penyebab kematian almarhumah dan menghormati privasi keluarga yang sedang berduka.