Kekhawatiran mengenai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat tidak terbukti. Sebuah analisis terbaru dari The Economist menunjukkan bahwa kehadiran AI justru telah menciptakan sekitar 1 juta lapangan kerja baru, jauh melebihi jumlah yang hilang akibat PHK terkait AI yang diperkirakan hanya sekitar 200.000 orang.
Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 800.000 lapangan kerja baru yang diciptakan. Saat ini, tingkat pengangguran di AS berada di angka 4,1 persen, yang lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata 90 persen selama 50 tahun terakhir. Hanya dalam bulan Agustus 2026, ekonomi AS berhasil menambah 162.000 lapangan kerja baru, melampaui ekspektasi banyak ekonom.
Pertumbuhan Lapangan Kerja di Sektor Teknologi
Industri yang berhubungan dengan pusat data telah mencatat penambahan 320.000 lapangan kerja tambahan sejak 2023, sementara pekerjaan profesional dan teknis, termasuk insinyur dan ilmuwan data, mengalami peningkatan 730.000 posisi di atas tren sejak 2022. Menurut LinkedIn, lowongan kerja spesifik untuk AI diperkirakan akan tumbuh sekitar 640.000 posisi baru antara 2023 hingga 2025, dengan profesi pengembang perangkat lunak menjadi salah satu yang mengalami pertumbuhan paling signifikan.
Ledakan lapangan kerja ini tidak hanya dirasakan oleh pekerja di sektor kerah putih. Perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Amazon, Microsoft, Google, dan Meta telah menginvestasikan dana besar untuk membangun pusat data yang melatih dan menjalankan model AI, yang pada gilirannya meningkatkan kebutuhan akan tenaga kerja fisik. Pekerjaan seperti tukang listrik, teknisi AC, dan insinyur jaringan listrik juga mendapatkan keuntungan dari peningkatan ini.
Transformasi Pekerjaan dan Keahlian
Proyeksi dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa sektor utilitas akan menjadi salah satu yang tumbuh paling cepat hingga tahun 2035, didorong oleh permintaan listrik dari pusat data AI yang semakin banyak. Sejak 2023, lapangan kerja di sektor-sektor terkait meningkat sekitar 320.000 posisi, angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi tren konstruksi dan manufaktur secara umum.
Kelompok usia 20-24 tahun, yang sering dianggap paling rentan terhadap dampak otomatisasi AI, menunjukkan performa yang lebih baik dari yang diperkirakan. Temuan ini bertentangan dengan prediksi banyak pihak, termasuk beberapa pemimpin perusahaan AI yang sebelumnya memperingatkan tentang ancaman tersebut. AI juga telah menciptakan jenis pekerjaan baru, seperti insinyur yang membangun model dan posisi "kepala AI" yang menentukan arah pemanfaatan AI dalam perusahaan.
Gad Levanon, kepala ekonom di Burning Glass Institute, memperkirakan bahwa sekitar 1 persen dari seluruh pekerjaan profesional di AS saat ini tergolong "pekerjaan AI," setara dengan sekitar 1 juta posisi. Dalam bidang komputer dan ilmu hayati, proporsi ini bahkan mencapai 4-5 persen.
Walaupun ada efek positif dari AI, disrupsi tetap terjadi. Pekerjaan administratif dan layanan pelanggan masih menjadi kelompok yang paling rentan terhadap otomatisasi. Dari 200.000 PHK terkait AI, sebagian besar terjadi di sektor ini. Namun, perubahan ini lebih tepat digambarkan sebagai pergeseran jenis keahlian yang dibutuhkan, bukan penghapusan pekerjaan secara total.
Sam Altman, CEO OpenAI, yang sebelumnya memperkirakan banyak pekerjaan layanan pelanggan akan hilang akibat AI, mengakui dalam sebuah konferensi pada Mei 2026 bahwa prediksinya meleset. Ia menyatakan, "Saya senang ternyata salah soal ini," meskipun tetap mengingatkan bahwa risiko belum sepenuhnya hilang.