🔴 Breaking
Momen Berharga: Video Jensen Huang 14 Tahun Lalu Tentang Visi Nvidia di Era AI Pria 26 Tahun di India Ditemukan Memiliki Rahim, Sebuah Kasus Langka --- Tiga Artikel Terpopuler: Penurunan Harga Minyak Global --- Kenali 8 Gejala Kerusakan Ginjal Parah dan Kapan Harus Melakukan Dialisis Usulan Kadin untuk Meningkatkan Perdagangan di Antara Negara-Negara BRICS Kecerdasan Buatan Ciptakan Peluang Kerja Baru, Bukan PHK Massal Tren Ear Seeds untuk Mengatasi Stres yang Populer di Kalangan Penggemar K-Pop Iran dan Rusia Menyuarakan Penolakan Terhadap Sanksi Ekonomi, Fokus pada Peningkatan Perdagangan BRICS Temuan Baru BPOM: Tiga Produk Jamu Kuat Pria Mengandung Pyrimidenafil --- Update Harga Emas 24 Karat di Antam, Pegadaian, dan Hartadinata pada 12 September 2026 --- Momen Berharga: Video Jensen Huang 14 Tahun Lalu Tentang Visi Nvidia di Era AI Pria 26 Tahun di India Ditemukan Memiliki Rahim, Sebuah Kasus Langka --- Tiga Artikel Terpopuler: Penurunan Harga Minyak Global --- Kenali 8 Gejala Kerusakan Ginjal Parah dan Kapan Harus Melakukan Dialisis Usulan Kadin untuk Meningkatkan Perdagangan di Antara Negara-Negara BRICS Kecerdasan Buatan Ciptakan Peluang Kerja Baru, Bukan PHK Massal Tren Ear Seeds untuk Mengatasi Stres yang Populer di Kalangan Penggemar K-Pop Iran dan Rusia Menyuarakan Penolakan Terhadap Sanksi Ekonomi, Fokus pada Peningkatan Perdagangan BRICS Temuan Baru BPOM: Tiga Produk Jamu Kuat Pria Mengandung Pyrimidenafil --- Update Harga Emas 24 Karat di Antam, Pegadaian, dan Hartadinata pada 12 September 2026 ---
Teknologi

Momen Berharga: Video Jensen Huang 14 Tahun Lalu Tentang Visi Nvidia di Era AI

Video lama Jensen Huang memberikan wawasan menarik tentang perjalanan Nvidia dan pandangannya mengenai masa depan teknologi AI.

Galang Mahesa

Penulis

13 September 2026
3 kali dibaca
CEO Nvidia Jensen Huang berbicara di sebuah forum di Stanford University pada tahun 2011. Di video lawas itu, ia mengungkap keputusan kunci yang mengantarkan Nvidia dari nyaris bangkrut menjadi raja chip AI.(Youtube)
CEO Nvidia Jensen Huang berbicara di sebuah forum di Stanford University pada tahun 2011. Di video lawas itu, ia mengungkap keputusan kunci yang mengantarkan Nvidia dari nyaris bangkrut menjadi raja chip AI.(Youtube)

Pada tahun 2025, sulit untuk tidak melihat nama Nvidia ketika membuka berita teknologi. Perusahaan yang berpusat di Santa Clara, AS, ini telah bertransformasi menjadi kekuatan dominan di Silicon Valley. Dengan valuasi yang mencapai triliunan dolar AS dan penguasaan hampir total di pasar chip AI, Nvidia menjadi berita utama setiap hari. Sosok di balik kesuksesan ini, Jensen Huang, kini dipandang seperti bintang rock, dengan jaket kulit hitamnya menjadi simbol ikonik dan tanda tangannya di kartu grafis menjadi lambang status. Namun, ada hal menarik ketika kita melihat kembali ke masa lalu. Baru-baru ini, algoritma YouTube menyajikan video kuliah umum Jensen Huang di Stanford University yang diunggah pada 24 Juni 2011, lebih dari 14 tahun yang lalu. Pada saat itu, Nvidia hanya dikenal sebagai produsen kartu grafis yang populer di kalangan gamer, belum menjadi raksasa teknologi seperti sekarang.

Pada tahun ketika video ini dibuat, istilah "AI generatif" belum dikenal, dan saham Nvidia masih berada di kisaran belasan dolar. Saat menyaksikan Jensen Huang berbicara, kita tidak melihat seorang "penjelajah waktu" yang tahu segalanya, melainkan seorang CEO yang berjuang untuk mempertahankan relevansi. Namun, jika video tersebut ditonton kembali pada tahun 2025, durasi satu jam itu ternyata menyimpan cetak biru dari kekaisaran AI yang ada saat ini.

Kerendahan Hati dan Perspektif

Salah satu hal paling mencolok dari video tersebut adalah sikap rendah hati Jensen terhadap istilah "visi". Di era ketika banyak pendiri startup berambisi untuk mengubah dunia, Jensen justru menolak konsep tersebut. "Visi itu kata yang terlalu berat. Kata itu menyiratkan bahwa Anda tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan, bahwa Anda punya bola kristal," ungkapnya di hadapan mahasiswa Stanford. Sebagai gantinya, ia menawarkan pendekatan yang lebih sederhana, yaitu perspektif. "Kami tidak punya visi. Kami punya perspektif bahwa grafis komputer akan menjadi media ekspresi paling penting," tambahnya. Perbedaan ini sangat penting, karena visi dapat membuat perusahaan menjadi kaku, sementara perspektif memungkinkan mereka untuk beradaptasi. Dengan perspektif ini, Nvidia tidak terjebak hanya melayani pasar game. Ketika mereka menyadari bahwa chip grafis (GPU) dapat melakukan perhitungan matematis paralel, mereka tidak mengabaikan peluang tersebut meskipun saat itu belum ada pasarnya. Inilah yang menjadi cikal bakal revolusi AI.

Jensen tidak "meramalkan" AI, melainkan memiliki perspektif bahwa komputasi harus dipercepat (accelerated computing), dan ia bersiap untuk menghadapi dunia yang akan mengejarnya.

Keberanian untuk Mengubah dan Belajar dari Kegagalan

Momen paling mengejutkan dalam video tersebut adalah ketika Jensen membahas pentingnya keberanian untuk menghentikan produk yang tidak lagi relevan. Pada 2011, Nvidia sudah menjadi pemimpin di bidang grafis dengan fungsi tetap. Namun, Jensen menyadari bahwa jika mereka terus bertahan di jalur tersebut, mereka akan menghadapi kebangkrutan. "Jika Anda tidak memakan (produk) Anda sendiri, orang lain yang akan melakukannya," tegasnya. Ia menceritakan keputusan penting untuk mengubah arsitektur GPU menjadi dapat diprogram, yang melahirkan CUDA pada tahun 2006. Investasi Nvidia di CUDA dianggap sebagai beban pada keuntungan perusahaan saat itu, dan banyak investor skeptis. "Buat apa bikin chip grafis yang bisa diprogram? Orang cuma mau main game Crysis!" mungkin itu yang dipikirkan para investor. Namun, pada tahun 2025, langkah tersebut terbukti sangat cerdas. Tanpa CUDA, para peneliti AI, termasuk tim awal OpenAI, tidak akan memiliki alat yang efisien untuk melatih jaringan saraf. Tanpa "pengorbanan" keuntungan di masa lalu, revolusi AI saat ini tidak akan terwujud di atas perangkat keras Nvidia.

Melihat Nvidia yang kini sangat dominan, sulit untuk membayangkan mereka pernah berada dalam posisi yang rentan. Namun, Jensen pada tahun 2011 membagikan cerita tentang kegagalan. Ia mengenang produk pertama Nvidia, NV1, yang diluncurkan pada 1995 dan gagal total karena menggunakan teknologi Quadratic Texture Mapping alih-alih Poligon yang menjadi standar industri. "Kami kehabisan uang. Kami punya cukup uang untuk 30 hari operasional," kenangnya. Penyelamatnya adalah keputusan berani untuk mengesampingkan ego dan beralih ke standar industri, serta mempercepat pengembangan produk RIVA 128 (NV3) dalam waktu enam bulan. "Definisi startup adalah entitas yang selalu dalam kondisi hampir bangkrut," ujarnya. Mentalitas ini, yang ia sebut "kejujuran intelektual," terus dibawa hingga Nvidia menjadi raksasa. Bahkan saat ini, di puncak kejayaan AI, Jensen sering menyatakan dalam wawancara bahwa ia masih terbangun dengan perasaan "cemas" bahwa perusahaannya bisa hancur.

Di akhir video, seorang mahasiswa bertanya tentang masa depannya di Nvidia. Jensen menjawab setengah bercanda, "Saya ingin pekerjaan ini (CEO) sampai saya umur 80 tahun." Saat itu, audiens tertawa, dan itu terdengar seperti ambisi klise. Namun kini, ucapan tersebut terdengar seperti janji yang ditepati. Meskipun rambutnya kini telah sepenuhnya memutih dan jaket kulitnya mungkin lebih mahal, esensi pemikirannya tetap sama. Menyaksikan video Jensen Huang tahun 2011 memberikan pelajaran berharga bahwa kesuksesan Nvidia saat ini adalah hasil dari keputusan-keputusan sulit yang diambil lebih dari satu dekade lalu.

Hari ini, dunia melihat Nvidia sebagai pemenang dalam industri AI. Namun, melalui video lama ini, kita menyadari bahwa mereka bukan sekadar beruntung. Mereka telah membangun fondasi yang kuat selama 30 tahun, menunggu saat yang tepat. Ketika saat itu tiba dalam bentuk ledakan AI, hanya Nvidia yang memiliki infrastruktur yang diperlukan. Video tersebut ditutup dengan tepuk tangan dari mahasiswa Stanford, yang mungkin tidak menyadari bahwa pria di panggung tersebut, satu dekade kemudian, akan menjadi penyedia "otak" bagi komputer yang mungkin akan menggantikan pekerjaan mereka.

Berikut adalah video Jensen Huang yang wajib Anda saksikan, berdurasi lebih dari satu jam, yang dapat diakses di sini.

Artikel Terkait