🔴 Breaking
Teknologi

Kecerdasan Buatan Ciptakan Peluang Kerja Baru, Bukan PHK Massal

Meskipun ada kekhawatiran tentang pemutusan hubungan kerja akibat kecerdasan buatan, analisis terbaru menunjukkan bahwa AI justru menciptakan lebih dari satu juta pekerjaan baru di Amerika Serikat.

Raihan Fadhila

Penulis

12 September 2026
8 kali dibaca
Ilustrasi gembira(shutterstock)
Ilustrasi gembira(shutterstock)

Kekhawatiran mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang disebabkan oleh kecerdasan buatan (AI) tidak terbukti di Amerika Serikat. Sebuah analisis dari The Economist menunjukkan bahwa kehadiran AI justru mendorong penciptaan lapangan kerja baru, dengan sekitar 1 juta posisi baru tercipta di negara tersebut.

PHK yang berkaitan langsung dengan AI diperkirakan hanya sekitar 200.000 orang, sehingga penciptaan lapangan kerja baru jauh melampaui penghapusan, dengan selisih sekitar 800.000 posisi. Saat ini, tingkat pengangguran di AS berada di angka 4,1 persen, yang merupakan angka terendah dalam 50 tahun terakhir. Pada bulan Agustus 2026, ekonomi AS bahkan menambah 162.000 lapangan kerja baru, angka ini melebihi ekspektasi banyak ekonom.

Industri yang Berkembang Pesat

Industri yang berhubungan dengan pusat data mencatat tambahan 320.000 lapangan kerja sejak 2023. Pekerjaan profesional dan teknis, termasuk insinyur dan ilmuwan data, meningkat sebanyak 730.000 posisi di atas tren sejak 2022. Selain itu, lowongan kerja yang spesifik untuk AI diperkirakan tumbuh sebanyak 640.000 posisi baru antara tahun 2023 hingga 2025, menurut data dari LinkedIn.

Raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, Google, dan Meta telah menginvestasikan dana besar untuk membangun pusat data yang diperlukan untuk melatih dan menjalankan model AI. Pembangunan pusat data ini menciptakan permintaan tinggi akan tenaga kerja fisik, termasuk tukang listrik, teknisi AC, dan insinyur jaringan listrik.

Perubahan dalam Jenis Pekerjaan

AI juga telah menciptakan kelas pekerjaan baru di sektor kerah putih, seperti insinyur yang membangun model AI dan orang yang memberi label pada data latih. Posisi seperti "forward-deployed engineer" dan "kepala AI" juga semakin banyak dibutuhkan. Menurut Kepala Ekonom di Burning Glass Institute, Gad Levanon, sekitar 1 persen dari total pekerjaan profesional di AS kini tergolong sebagai "pekerjaan AI", yang setara dengan sekitar 1 juta posisi.

Meski demikian, disrupsi akibat AI tetap ada, terutama di sektor pekerjaan administratif dan layanan pelanggan, yang masih rentan terhadap otomatisasi. Sebagian besar dari 200.000 PHK yang terkait AI terjadi di kelompok pekerjaan ini. Namun, pergeseran ini lebih mencerminkan perubahan jenis keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja, bukan penghapusan pekerjaan secara total.

Kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan yang diungkapkan oleh beberapa pemimpin perusahaan AI, termasuk CEO OpenAI, Sam Altman, ternyata tidak sepenuhnya akurat. Dalam sebuah konferensi pada Mei 2026, Altman mengakui bahwa prediksinya meleset, dan ia merasa senang karena hal tersebut tidak terjadi seperti yang dikhawatirkan.

Artikel Terkait