🔴 Breaking
Pertemuan Prabowo dengan Pimpinan Bank Himbara: Fokus pada Efisiensi Perbankan --- Kejanggalan dalam Kasus dr Ratna yang Dituntut Penjara 4,5 Tahun Terungkap --- Kenaikan BI Rate Belum Optimalkan Rupiah, Pengamat Soroti Dominasi Faktor Eksternal Pendapatan OpenAI Mencapai Rp 355 Triliun, Namun Kerugian Meningkat Hingga Rp 693 Triliun 76 Sekolah di Jawa Dihentikan Bantuan Gizi, Fokus pada yang Membutuhkan Kemeriahan Gebyar Tadris 2026 UIN Saizu: Film dan Inovasi Pembelajaran Mahasiswa Panduan Pendaftaran Program Magang Nasional Kemnaker Kasus Korupsi MBG: Sony Sonjaya Kembali Diperiksa Kejagung, Status JC Jadi Sorotan Mengenal Amanda Askell: Filsuf yang Menghidupkan AI Claude Inovasi Kesehatan: Brawijaya Hospital Luncurkan Pusat Terapi Sel Punca Pertemuan Prabowo dengan Pimpinan Bank Himbara: Fokus pada Efisiensi Perbankan --- Kejanggalan dalam Kasus dr Ratna yang Dituntut Penjara 4,5 Tahun Terungkap --- Kenaikan BI Rate Belum Optimalkan Rupiah, Pengamat Soroti Dominasi Faktor Eksternal Pendapatan OpenAI Mencapai Rp 355 Triliun, Namun Kerugian Meningkat Hingga Rp 693 Triliun 76 Sekolah di Jawa Dihentikan Bantuan Gizi, Fokus pada yang Membutuhkan Kemeriahan Gebyar Tadris 2026 UIN Saizu: Film dan Inovasi Pembelajaran Mahasiswa Panduan Pendaftaran Program Magang Nasional Kemnaker Kasus Korupsi MBG: Sony Sonjaya Kembali Diperiksa Kejagung, Status JC Jadi Sorotan Mengenal Amanda Askell: Filsuf yang Menghidupkan AI Claude Inovasi Kesehatan: Brawijaya Hospital Luncurkan Pusat Terapi Sel Punca
Ekonomi

Kenaikan BI Rate Belum Optimalkan Rupiah, Pengamat Soroti Dominasi Faktor Eksternal

Rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS meski Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan. Pengamat menilai keputusan tersebut belum mampu meyakinkan pelaku pasar.

Aditya Surya

Penulis

18 June 2026
8 kali dibaca
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis, 18 Juni 2026. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang, menilai bahwa keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% belum cukup untuk meyakinkan pelaku pasar. Alih-alih menguat, nilai tukar rupiah justru kembali melemah setelah sebelumnya sempat merespons positif terhadap kebijakan tersebut.

"Rupiah pun juga terus mengalami pelemahan bahkan pada saat tadi Bank Indonesia ya menaikkan suku bunga 25 basis poin," ungkap Ibrahim. Dia menilai bahwa pergerakan rupiah setelah pengumuman BI menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya menerima alasan di balik kenaikan suku bunga yang diklaim bertujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Dominasi Faktor Eksternal

Ibrahim menjelaskan bahwa respons pasar tersebut menjadi sinyal bahwa faktor eksternal masih lebih dominan dalam memengaruhi pergerakan rupiah dibandingkan dengan kebijakan moneter domestik. "Artinya apa? Bahwa pasar menolak ya Bank Indonesia menaikkan suku bunga walaupun Gubernur Bank Indonesia sudah mengatakan bahwa tujuan menaikkan suku bunga adalah untuk stabilitas mata uang rupiah. Tetapi menurut saya bukan stabilitas mata uang rupiah," jelasnya.

Dia mencatat bahwa pada perdagangan sore itu, mata uang rupiah ditutup melemah 32 poin, setelah sebelumnya sempat melemah 60 poin di level 17.794, dari penutupan sebelumnya di level 17.764. Ibrahim juga mengungkapkan bahwa setelah pengumuman kenaikan suku bunga, rupiah sempat menunjukkan penguatan tipis, namun kondisi tersebut tidak bertahan lama karena tekanan jual kembali muncul di pasar.

Kebijakan dan Respons Pasar

Menurutnya, pergerakan tersebut mencerminkan bahwa pelaku pasar belum melihat kenaikan suku bunga sebagai solusi efektif untuk menopang nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. "Saya pun juga enggak habis pikir Bank Indonesia ya dalam pertemuan hari ini menaikkan suku bunga," tambahnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa lonjakan kepemilikan nonresiden terhadap instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut mendukung penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada 15 Juni 2026, posisi SRBI tercatat sebesar Rp 1.021,1 triliun, dengan kepemilikan nonresiden meningkat menjadi Rp 238,1 triliun, atau 23,3 persen dari total outstanding. "Sehingga itu turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) secara virtual.

Dia menambahkan bahwa penguatan sinergi antara kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia terus dilakukan untuk memperkuat neraca modal dan finansial guna mendukung ketahanan eksternal Indonesia serta memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dalam menghadapi gejolak global. Perry juga mencontohkan bahwa kurs rupiah pada 17 Juni 2026 berhasil menguat ke Rp 17.730 per dolar AS, atau meningkat 0,76 persen dibandingkan level akhir Mei 2026.

Lebih lanjut, salah satu kebijakan yang diambil oleh bank sentral adalah kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, setelah sebelumnya pada RDG mingguan 9 Juni 2026 suku bunga acuan dinaikkan menjadi 5,50 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga memberikan penjelasan bahwa kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen telah memberikan dampak positif, terutama pada penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Selasa, 9 Juni 2026, IHSG ditutup di posisi 5.746,64, naik 7,57 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya, sementara kurs rupiah ditutup menguat 130 poin atau 0,71 persen menjadi Rp 18.058 per dolar AS.

Airlangga menegaskan bahwa data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan BI Rate memang bertujuan untuk menjaga kestabilan ekonomi. "Jadi dengan BI Rate naik kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian yang kedua rupiah juga sedikit menguat," ujarnya saat ditemui di kantornya di Jakarta.

Dia juga menyatakan bahwa catatan tersebut merupakan bukti bahwa pasar merespons positif hasil stabilisasi dari kenaikan suku bunga acuan. "Oleh karena itu tentu kita terus mengutamakan stabilisasi dari ekonomi, karena ekonomi kan memang dasarnya juga kuat ya, baik dari segi ekspor, dari segi makro," ungkapnya. Meskipun demikian, Airlangga mengakui bahwa tindakan yang diambil oleh Bank Indonesia terkesan mendadak, namun hal itu merupakan respons terhadap tuntutan pasar yang menginginkan kepastian.

"Karena ini memang market membutuhkan signal yang kuat. Dan dengan kenaikan BI Rate 25 basis point itu, market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang," tutupnya.

Artikel Terkait