🔴 Breaking
Teknologi

15 Jenis Pekerjaan yang Terancam Hilang pada 2030 Akibat AI

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi diprediksi akan menyebabkan penurunan signifikan pada berbagai jenis pekerjaan dalam lima tahun ke depan. Laporan terbaru mengungkapkan ba...

Chandra Kirana

Penulis

05 August 2026
9 kali dibaca
15 Jenis Pekerjaan yang Terancam Hilang pada 2030 Akibat AI
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi diperkirakan akan berdampak besar pada dunia kerja, dengan sejumlah jenis pekerjaan mengalami penurunan drastis dalam waktu lima tahun mendatang. Menurut laporan Future of Jobs 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF), posisi-posisi administratif seperti juru tulis dan petugas entri data berada di garis depan dalam ancaman penggantian oleh teknologi, terutama oleh AI. Laporan ini disusun berdasarkan survei terhadap 1.043 perusahaan di seluruh dunia yang mencakup lebih dari 14 juta pekerja.

Dari hasil penelitian tersebut, teridentifikasi 15 jenis pekerjaan yang diperkirakan akan mengalami penurunan paling cepat antara tahun 2025 hingga 2030. Pekerjaan yang paling terpengaruh adalah petugas pelayanan pos, yang diprediksi akan menyusut hingga 40 persen. Selanjutnya, posisi teller bank diperkirakan akan berkurang sebesar 35 persen, diikuti oleh petugas entri data yang diprediksi berkurang hingga 34 persen.

Pekerjaan Administratif Paling Rentan

Dengan penurunan ini, akan ada 35 persen lebih sedikit teller dan 34 persen lebih sedikit petugas entri data yang diperlukan pada tahun 2030 dibandingkan dengan tahun 2025. Pekerjaan-pekerjaan ini dianggap sangat rentan karena sebagian besar tugas yang diemban dapat dilaksanakan secara otomatis oleh sistem digital atau kecerdasan buatan. Misalnya, proses entri data dan pengelolaan dokumen kini dapat diotomatisasi menggunakan perangkat lunak berbasis AI yang lebih cepat dan akurat.

Selain itu, sektor ritel dan layanan pelanggan juga tidak terhindar dari dampak ini. Posisi seperti kasir, asisten administratif, dan petugas tiket diperkirakan akan mengalami penurunan yang signifikan, seiring dengan meningkatnya penggunaan layanan self-checkout di supermarket dan transaksi digital.

Inovasi Teknologi dan Tantangan yang Dihadapi

Walaupun adopsi teknologi memberikan peluang, tidak semua eksperimen dengan teknologi AI berjalan mulus. Contohnya, sistem kasir otomatis “Just Walk Out” dari Amazon, yang diklaim tanpa kasir, ternyata masih membutuhkan ribuan pekerja di India untuk memverifikasi transaksi secara manual. Hal yang sama juga terjadi di McDonald’s, yang pada tahun 2024 menghentikan uji coba sistem pemesanan berbasis AI di layanan drive-thru karena kesulitan dalam memahami pesanan yang kompleks dan mengalami masalah teknis.

Selain pekerjaan administratif, profesi di bidang kreatif dan hukum juga diprediksi akan terpengaruh. Peran seperti desainer grafis, sekretaris hukum, dan tenaga telemarketing akan berkurang seiring dengan meningkatnya kemampuan AI dalam menghasilkan konten visual, menjawab pertanyaan hukum dasar, dan melakukan kontak dengan pelanggan secara otomatis.

Berikut adalah daftar 15 pekerjaan yang diprediksi akan paling terpengaruh oleh AI hingga tahun 2030:

  • Petugas Pos (-40%)
  • Teller Bank (-35%)
  • Petugas Entri Data (-34%)
  • Asisten Administrasi (-34%)
  • Sekretaris Eksekutif dan Administratif (-33%)
  • Petugas Gudang dan Pengelola Barang (-32%)
  • Tenaga Telemarketing (-30%)
  • Sekretaris Hukum (-30%)
  • Kasir dan Petugas Tiket (-29%)
  • Penerima Tamu dan Asisten Informasi (-29%)
  • Pekerja Data dan Informasi (-28%)
  • Pekerja Kantor Umum (-27%)
  • Desainer Grafis (-26%)
  • Pekerja Admin Sumber Daya Manusia (-25%)
  • Pekerja Layanan Konsumen (-24%)

Meskipun banyak pekerjaan yang terancam, laporan WEF juga mencatat bahwa transformasi teknologi dapat menciptakan peluang baru di bidang lainnya. Namun, diperlukan waktu dan usaha yang signifikan dalam pelatihan ulang tenaga kerja agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Pergeseran ini menjadi peringatan bagi individu dan pemerintah untuk bersiap menghadapi perubahan dalam dunia kerja. Peningkatan literasi digital, pelatihan keterampilan baru, dan penggunaan teknologi secara etis akan menjadi kunci agar tenaga kerja tidak tertinggal di era otomatisasi dan AI.

Artikel Terkait