🔴 Breaking
Kesehatan

--- Membedakan Sensasi Berdebar dan Gejala Aritmia Jantung ---

--- Banyak orang menganggap sensasi berdebar di dada sebagai indikasi aritmia, namun kedua kondisi ini memiliki perbedaan yang signifikan. Seorang dokter menjelaskan perbedaan tersebut dan pentingnya...

Galang Mahesa

Penulis

14 August 2026
5 kali dibaca
Foto ilustrasi: Getty Images/Chinnapong
Foto ilustrasi: Getty Images/Chinnapong
---TITLEEXCERPT--- Banyak orang menganggap sensasi berdebar di dada sebagai indikasi aritmia, namun kedua kondisi ini memiliki perbedaan yang signifikan. Seorang dokter menjelaskan perbedaan tersebut dan pentingnya pemeriksaan medis. ---CONTENT---

Jakarta - Sensasi berdebar di dada sering kali diartikan sebagai tanda adanya penyakit aritmia atau gangguan pada irama jantung. Namun, apakah keduanya benar-benar sama? Dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialisasi kardiovaskular dari Brawijaya Hospital, dr Simon Salim, SpPD-KKV, menjelaskan bahwa berdebar dan aritmia adalah dua hal yang berbeda secara medis.

“Berdebar itu adalah keluhan subjektif. Sedangkan aritmia itu adalah penemuan objektif dari dokter,” jelas dr Simon dalam tayangan detikSore.

Aritmia dan Berdebar: Perbedaan yang Jelas

Menurut dr Simon, aritmia berarti adanya gangguan pada irama jantung, yang bisa terjadi dengan detak yang lebih cepat atau lebih lambat dari seharusnya. “Kalau berdebar beda lagi, berdebar kan memang perasaan,” tambahnya. Ia menekankan bahwa tidak semua sensasi berdebar disebabkan oleh aritmia, dan orang yang mengalami aritmia pun tidak selalu merasakan gejala berdebar.

Pentingnya Pemeriksaan EKG untuk Mendiagnosis Aritmia

Lebih lanjut, dr Simon menjelaskan bahwa aritmia merupakan kelompok penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada sistem listrik jantung. Karena sifatnya yang medis, diagnosis aritmia tidak bisa hanya berdasarkan perasaan atau keluhan pasien. “Aritmia ini terdiri dari berbagai macam penyakit yang semua dikategorikan dalam aritmia. Oleh karena itu, aritmia harus dibuktikan dengan rekaman listrik jantung (EKG), karena memang ini adalah gangguan listrik jantung,” ungkapnya.

Dr Simon juga mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan aritmia yang tidak menunjukkan gejala. Ketiadaan rasa sakit atau berdebar tidak selalu berarti kondisi jantung dalam keadaan baik. “Jadi kita enggak bisa menyatakan karena ada gejala berdebar dia pasti lebih berbahaya. Kita harus membedakan aritmia yang mengganggu kehidupan sehari-hari dengan aritmia yang berpotensi berbahaya,” jelasnya.

Meskipun beberapa kasus aritmia muncul tanpa gejala, dr Simon mengungkapkan beberapa tanda yang sering dikeluhkan oleh pasien dengan gangguan irama jantung. Selain sensasi berdebar, gejala fisik yang umum dirasakan meliputi:

  • Tubuh terasa lemas: Ini terjadi akibat aliran darah dan oksigen dari jantung tidak terpompa dengan baik ke seluruh tubuh.
  • Mudah lelah: Penderita merasa sangat capek meski hanya melakukan aktivitas ringan.
  • Sensasi hampir pingsan atau kehilangan kesadaran: Ini terjadi ketika irama jantung berdetak terlalu lambat atau cepat secara mendadak, sehingga suplai darah ke otak menurun drastis.

“Yang paling banyak (gejala) memang berdebar, berdebar merupakan salah satu gejala dari aritmia. Nah yang berikutnya adalah rasa lemas, mudah lelah, bahkan seperti pingsan,” ungkap dr Simon. Untuk memastikan apakah sensasi berdebar yang dialami merupakan tanda aritmia yang berbahaya atau tidak, perlu dilakukan pemeriksaan medis. Ia menganjurkan agar segera melakukan rekam listrik jantung atau elektrokardiogram (EKG) di fasilitas kesehatan terdekat.

Artikel Terkait