Jakarta - Penggunaan pipa polyvinyl chloride (PVC) atau paralon sebagai cetakan dan alat pengukus kue putu kini semakin banyak ditemui di kalangan pedagang. Meskipun praktis, para ahli mengingatkan bahwa material ini tidak dirancang untuk bersentuhan langsung dengan makanan, terutama pada suhu yang tinggi.
Pakar Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Nuri Andarwulan, menjelaskan bahwa bahan yang digunakan untuk kontak langsung dengan makanan telah diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dalam regulasi tersebut, terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar suatu material dianggap aman untuk digunakan.
Risiko Kesehatan dari Penggunaan Pipa PVC
Nuri menegaskan, "Pipa PVC tidak diizinkan untuk kontak pangan (kalau untuk air diizinkan) dan sebagai alat untuk memasak yang kontak suhu tinggi," saat dihubungi pada Jumat (26/6/2026). Ia menjelaskan bahwa penggunaan pipa PVC sebagai alat pengukus dapat menyebabkan migrasi senyawa kimia dari plastik ke makanan, terutama ketika terkena panas.
Menurutnya, senyawa yang dapat berpindah dari PVC termasuk logam berat. Paparan terhadap senyawa tersebut harus diwaspadai karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan jika terjadi secara terus-menerus. "Dampak: mengganggu kerja hormon hingga (bersifat) karsinogenik," ungkap Nuri. Karsinogen adalah zat yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena kanker.
Pentingnya Kesadaran akan Bahaya Pipa PVC
Dengan semakin banyaknya pedagang kue putu yang menggunakan pipa PVC untuk mengukus, penting bagi masyarakat untuk menyadari risiko yang mungkin ditimbulkan. Penggunaan material yang tidak sesuai standar dapat membahayakan kesehatan konsumen, sehingga perlu ada perhatian lebih dari semua pihak terkait.
Dalam konteks ini, edukasi mengenai bahan yang aman untuk digunakan dalam proses memasak dan penyajian makanan sangatlah penting. Kesadaran akan bahaya penggunaan pipa PVC harus ditingkatkan agar masyarakat dapat memilih alternatif yang lebih aman.