🔴 Breaking
Studi Mengungkap Bahaya Konsumsi Makanan Olahan Terkait Risiko Kematian Kesempatan Berkarir di Paramount Land, Dibutuhkan Lulusan S1 dari Berbagai Jurusan Harga Berlian Alam Terjun Bebas, Turun Hingga 51% dalam Lima Tahun Keceriaan Hari Pertama Acara #TanggalMerahUntukIbu di Bandung Donasi Besar Phil Knight untuk University of Oregon di Tengah Pemangkasan Anggaran Pendidikan oleh Trump Waktu untuk Diri Sendiri: Pentingnya Me Time bagi Ibu Jumlah Pekerja Terkena PHK Mencapai 53.490 di 2026, Ini Provinsi dengan Angka Tertinggi Tanda-Tanda Seseorang dengan Kecerdasan Rendah yang Perlu Diketahui Pengalaman Belajar Berpikir Logis Siswa TKII Al Abidin di Kebun Melon Penutupan Jalan Padang-Solok Akibat Banjir Bandang, Jembatan Bailey Siap Diterjunkan Studi Mengungkap Bahaya Konsumsi Makanan Olahan Terkait Risiko Kematian Kesempatan Berkarir di Paramount Land, Dibutuhkan Lulusan S1 dari Berbagai Jurusan Harga Berlian Alam Terjun Bebas, Turun Hingga 51% dalam Lima Tahun Keceriaan Hari Pertama Acara #TanggalMerahUntukIbu di Bandung Donasi Besar Phil Knight untuk University of Oregon di Tengah Pemangkasan Anggaran Pendidikan oleh Trump Waktu untuk Diri Sendiri: Pentingnya Me Time bagi Ibu Jumlah Pekerja Terkena PHK Mencapai 53.490 di 2026, Ini Provinsi dengan Angka Tertinggi Tanda-Tanda Seseorang dengan Kecerdasan Rendah yang Perlu Diketahui Pengalaman Belajar Berpikir Logis Siswa TKII Al Abidin di Kebun Melon Penutupan Jalan Padang-Solok Akibat Banjir Bandang, Jembatan Bailey Siap Diterjunkan
Kesehatan

Penyebab Keracunan Ratusan Siswa di Papua Terungkap

Kepala Badan Gizi Nasional mengungkapkan dugaan penyebab keracunan ratusan siswa di Papua setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis, terkait dengan pelanggaran standar keamanan pangan.

Bima Sakti

Penulis

07 August 2026
53 kali dibaca
Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth
Foto: Devandra Abi Prasetyo/detikHealth

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan kemungkinan penyebab keracunan yang dialami oleh ratusan siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menjelaskan bahwa temuan awal menunjukkan bahwa satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memasak makanan terlalu awal, yang melanggar standar keamanan pangan yang berlaku.

Proses Memasak yang Tidak Sesuai

Sudaryono menjelaskan, "Jadi memang memulai masaknya terlalu cepat, kalau nggak salah pukul 19.00 atau 19.30 di hari sebelumnya untuk diberi makan pada hari berikutnya di pukul 11.00, jadi itu sudah melanggar, termasuk yang di Semarang, Jawa Tengah, juga sama, dia mulai masak jam 21.00. Ini kan masalah kedisiplinan." Ia menambahkan bahwa BGN sedang mencari formula untuk meningkatkan pengawasan terhadap SPPG yang melanggar ketentuan.

Ia juga menegaskan bahwa BGN tidak akan ragu untuk membawa kasus ini ke ranah hukum jika terdapat indikasi kesengajaan, sabotase, atau pelanggaran lainnya dalam pelaksanaan program MBG. "Memang kalau ada ya kita serahkan semua, bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela, karena kalau salah, ngapain dibela. Jadi, cuma kan kita mesti juga ada asas praduga tak bersalah," ujarnya.

Faktor Lain Penyebab Keracunan

Di sisi lain, Sudaryono menjelaskan bahwa tidak semua kasus keracunan disebabkan oleh kesalahan dalam proses memasak di dapur MBG. Ia menyebutkan bahwa ada insiden yang terjadi karena makanan dibawa pulang oleh penerima manfaat dan dikonsumsi beberapa waktu kemudian bersama anggota keluarga. "Misalnya dia sudah benar semua dapurnya, kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai, jam 9 atau 10 pagi, tetapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain," jelasnya.

Karena itu, BGN berencana untuk memperkuat edukasi kepada penerima manfaat mengenai keamanan pangan, termasuk pentingnya mengonsumsi makanan MBG sesuai waktu yang dianjurkan dan tidak menyimpannya terlalu lama.

Sebelumnya, lebih dari 200 siswa di Distrik Depapre diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Rabu (5/8). Beberapa siswa sempat dirawat di RSUP Jayapura, dan kondisi mereka dilaporkan mulai membaik. Delapan pasien yang masih dirawat menunjukkan perkembangan positif, bahkan satu di antaranya telah diizinkan pulang dari rumah sakit.

Artikel Terkait