Dalam laporan keuangan kuartal pertama (Q1) 2026, AMD memberikan kabar baik bagi para investornya, tetapi juga mengeluarkan sinyal peringatan bagi konsumen dan gamer. Peringatan ini disampaikan oleh CEO AMD, Lisa Su, yang memiliki hubungan keluarga dengan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang merupakan sepupu jauh. Hal ini menambah nuansa menarik pada situasi yang sedang berlangsung di industri chip.
Keponakan Jensen Huang juga memberikan peringatan serius mengenai kemungkinan lonjakan harga komponen PC dan kartu grafis (GPU) dalam waktu dekat. Lisa Su mengungkapkan bahwa divisi data center AMD mencatat pendapatan yang sangat tinggi berkat meningkatnya permintaan untuk teknologi AI. Namun, ia juga memprediksi bahwa permintaan di sektor bisnis korporasi dan gaming akan mengalami penurunan yang signifikan pada paruh kedua tahun 2026.
Penyebab Kenaikan Harga Komponen
Penyebab utama dari ancaman kenaikan harga ini adalah meningkatnya biaya produksi akibat tingginya harga memori dan komponen. Chief Financial Officer (CFO) AMD, Jean Hu, mengonfirmasi bahwa permintaan di sektor gaming akan terpengaruh oleh biaya komponen yang melonjak. "Kami memperkirakan permintaan di paruh kedua (tahun 2026) pada sektor gaming akan terdampak oleh tingginya biaya komponen dan memori. Kami kini memproyeksikan pendapatan gaming di paruh kedua akan anjlok lebih dari 20 persen dibandingkan paruh pertama," jelas Hu.
Penurunan yang diperkirakan lebih dari 20 persen ini menunjukkan bahwa AMD mungkin akan kehilangan hingga 30 persen pendapatannya di sektor gaming. Dengan memasuki kuartal ketiga (Q3) dan kuartal keempat (Q4) 2026, pasokan kartu grafis AMD Radeon berpotensi semakin menipis, yang dapat memicu kenaikan harga untuk berbagai model, termasuk seri RX 9000.
Dampak pada Konsol dan Pasar Gaming
Situasi ini juga berdampak pada konsol seperti PlayStation 5 (PS5) dan Xbox, yang diproduksi oleh AMD. Penjualan kedua konsol tersebut mengalami penurunan karena memasuki siklus akhir, dan pasar mulai jenuh. Namun, krisis komponen dapat memperburuk kondisi ini, di mana tingginya biaya produksi dapat menyebabkan vendor menaikkan harga perangkat keras konsol, yang pada gilirannya membuat calon pembeli semakin enggan untuk berinvestasi.
Peringatan dari Lisa Su sejalan dengan laporan pesimistis mengenai krisis komponen, khususnya memori (RAM), yang semakin mengganggu industri teknologi. Produsen chip memori, Micron, sebelumnya telah memperingatkan bahwa tingginya permintaan untuk pusat data AI memberikan tekanan besar pada pasokan RAM global. Samsung juga memprediksi kelangkaan signifikan di sektor memori akan terus berlanjut hingga tahun 2027.
Di pasar ritel, kartu grafis seperti Asus RX 9070 XT kini mulai dijual dengan harga yang lebih tinggi akibat kelangkaan ini. Komunitas gamer dan pengguna PC pun mulai pesimis terhadap kemungkinan harga RAM dan GPU kembali normal, dengan banyak yang percaya bahwa kondisi ini tidak akan membaik dalam waktu dekat.
Salah satu pengguna forum Reddit mencerminkan keputusasaan ini dengan menyatakan, "Prediksi saya, sepanjang tahun 2027 harga akan turun dari kenaikan 400 persen, yang tidak masuk akal, menjadi kenaikan yang sedikit lebih ramah di 200 persen. Namun, harganya tidak akan pernah turun lebih rendah dari batas itu lagi." Ini menunjukkan bahwa banyak yang percaya bahwa ekonomi RAM akan berubah secara permanen, dengan dampak yang berkepanjangan pada industri.